Mereka datang dengan satu niat, mengambil peran dalam mengokohkan ketahanan ekonomi nasional.
Di kursinya, Bupati Bantaeng ikut mengangguk pelan, seakan mengafirmasi bahwa ruang seperti inilah yang ia cari; ruang pertemuan antara jaringan dagang, kebijakan daerah, dan harapan masyarakat akar rumput.
Nama-nama besar mengisi daftar kehadiran hari itu. Gubernur Sulawesi Selatan, H. Andi Sudirman Sulaiman, hadir sebagai tuan rumah yang memayungi. Di sampingnya, H.M. Aksa Mahmud, Ketua Dewan Penyantun KKSS, duduk menyimak jalannya acara, membawa pengalaman panjang sebagai pelaku usaha nasional. Sekjen BPP KKSS, H. Abdul Kadir Karding, serta Ketua KADIN Sulsel, H. Andi Iwan Darmawan Aras, menambah tebal lapisan jejaring yang terbangun dalam ruangan itu: pengusaha, politisi, birokrat, semua bertemu dalam satu titik yang sama ekonomi yang lebih tahan banting.
Bagi Bantaeng, pertemuan seperti PSBM ini ibarat dermaga baru. Di sanalah peluang-peluang bisa ditambatkan, gagasan-gagasan baru bisa ditukar.
Di tengah perbincangan di sela jeda acara, nama Bantaeng mengalir dalam dialog: tentang potensi maritimnya, tentang lahan subur yang menunggu sentuhan investasi, tentang tangan-tangan petani dan nelayan yang berharap harga lebih adil. Bupati menyadari bahwa ketahanan ekonomi nasional bukan konsep abstrak yang berhenti di ruang-ruang seminar; ia hidup di sawah-sawah yang ditanami, di kapal-kapal kecil yang bertolak sebelum fajar, di pasar-pasar tradisional yang berdenyut tiap pagi.
Saat lantunan doa mengantar sesi berikutnya, suasana dalam ballroom bergeser menjadi lebih khidmat. Hikmah Halal bi Halal disampaikan oleh Ust. Dr. Adi Hidayat, Lc., M.A. Kata-katanya mengalir, merangkai hubungan antara iman dan tanggung jawab sosial, antara rezeki dan kejujuran, antara keberhasilan usaha dan kepedulian pada sesama.
Di tengah keseriusan hitung-hitungan bisnis dan strategi ekonomi, pengingat itu menjadi semacam jangkar moral: bahwa ketangguhan sejati tidak hanya diukur dari seberapa besar aset, tetapi juga seberapa luas manfaat yang menjalar dari usaha yang dijalankan.
Di luar gedung, Makassar malam mulai menyalakan lampu-lampu kota. Namun di dalam Phinisi Ballroom, perbincangan tentang masa depan terus menyala. PSBM XXVI menjelma ruang di mana ingatan akan leluhur pelaut bertemu dengan kecemasan zaman baru, tempat di mana nama-nama daerah seperti Bantaeng mencoba menegakkan diri sejajar dengan kota-kota besar.
Kehadiran Bupati Bantaeng menjadi penanda bahwa kabupaten itu tidak ingin tinggal sebagai penonton di tepi panggung sejarah ekonomi, melainkan pelaku yang ikut menuliskan babak baru.












