Mengenang 37 Tahun Kepergian Ramang Tetap “Toami”, Tapi Telah Tiada.

Ramang duduk di depan kediamannya di Jl. Andi Mappanyukki tahun 1980-an.
Ramang duduk di depan kediamannya di Jl. Andi Mappanyukki tahun 1980-an.

Tak perlu waktu lama bagi Ramang untuk membangkitkan imajinasi dan harapan rakyat Indonesia, negara yang masih muda saat itu. Indonesia melakoni tur Asia Timur melawan Filipina, All-Hong Kong, Hong Kong Selection, Persatuan Sepakbola Seluruh China, Korea Selatan, dan Thai Royal Air Force pada tahun 1953. Dari sekian banyak pertandingan di negeri asing, Indonesia hanya kalah sekali oleh Korsel, sisanya mereka menangkan seluruhnya. Begitu dahsyatnya kemampuan Indonesia saat itu hingga mereka mencatat 25 gol dan hanya kebobolan tujuh kali dalam enam pertandingan. Yang sangat dahsyat lagi, 19 gol Indonesia di tur itu dicetak oleh Ramang.

Tiga tahun berselang, Indonesia kembali mendapat kesempatan bermain di ajang besar. Tim sepak bola Indonesia dinyatakan lolos ke perempat final Olimpiade Melbourne 1956 setelah Vietnam Selatan mengundurkan diri. Ini adalah satu-satunya partisipasi Indonesia di ajang Olimpiade.

Di atas kertas, Indonesia yang merupakan bagaikan negeri antah berantah di dunia sepak bola diprediksikan akan dihajar habis-habisan oleh tim-tim kuat dunia. Tapi itu tidak terjadi.

BACA JUGA:  Inggris Singkirkan Slovakia

Pelatih Indonesia saat itu Tony Pogacnik mempersiapkan Indonesia dengan baik. Tak lupa, ia membawa serta Ramang ke dalam timnya. Lawan mereka di perempat final adalah salah satu tim terkuat dunia saat itu, Uni Soviet. Patut dicatat bahwa Indonesia bukan melawan tim junior atau tim amatir Uni Soviet; Garuda bertanding melawan tim yang kurang lebih sama dengan yang menjuarai Piala Eropa pada tahun 1960.

Uni Soviet diperkuat pemain hebat seperti Lev Yashin, Igor Netto, Eduard Streltsov dan Valentin Ivanov.

Di babak sebelumnya, Uni Sovyet telah mengalahkan juara dunia Jerman Barat dengan skor 2-1. Mereka terperangah oleh penampilan spartan yang ditunjukkan skuad tak dikenal bernama Indonesia.

Pertahanan Rusia dikejutkan oleh serangan kilat yang dilancarkan seorang diri oleh Ramang di awal laga. Melewati beberapa ‘defender’ lawan, Ramang melepaskan tembakan yang secara ajaib mampu diselamatkan oleh Lev Jashin. Indonesia lalu dikurung habis-habisan oleh Uni Soviet yang memang lebih superior dalam hal teknis. Strategi ultra defensif yang diterapkan Pogacnik mampu meredam semua serangan yang dilancarkan oleh tim Eropa Timur itu.

BACA JUGA:  Breaking News : Ayah dan Anak di Maros, Ditemukan Tewas Bersimbah Darah

Ramang dengan kelincahannya bahkan nyaris membuat Uni Soviet gigit jari. Pada menit ke-84, melalui skema serangan balik cepat, Ramang berhasil melepaskan tembakan yang kembali bisa diselamatkan dengan ajaib oleh Yashin. Pertandingan itu berakhir tanpa gol.

‘’Sebenarnya saya bisa mencetak gol waktu itu andaikan seragam saya tak ditarik dari belakang oleh pemain lawan,’’ Ramang mengaku dalam suatu kesempatan.

Pada pertemuan kedua, Indonesia dihajar empat gol tanpa balas oleh Soviet. Namun kemenangan itu tak diraih dengan mudah. Soviet yang sudah tahu kelihaian Ramang sampai harus menempatkan salah satu pemain terbaiknya, Igor Netto, untuk mengawal Ramang secara khusus.

Penampilan Indonesia kala menahan imbang Soviet disebut FIFA sebagai salah satu penampilan paling heroik dalam sejarah sepak bola Olimpiade. ‘Hutang’ Indonesia kepada Ramang tak hanya berhenti sampai di situ.

Indonesia yang meretas jalan menuju Piala Dunia 1958 Swedia berhasil mengalahkan China di putaran pertama. Ramang mencetak dua gol dalam dua pertandingan, dan Indonesia lolos ke babak selanjutnya dengan agregat 4-3. Indonesia kemudian melaju ke putaran kedua kualifikasi dan tergabung dengan Sudan, Israel dan Mesir.

BACA JUGA:  Jadwal Super League: Dewa United Jamu Persib Bandung 

Karena alasan politik, Indonesia tak mau bermain di markas Israel dan mengundurkan diri dari kualifikasi. Andaikata bisa menjadi juara grup, Indonesia akan lolos ke Piala Dunia untuk kali kedua.