Wartawan olahraga Makassar, M.Dahlan Abubakar, mengatakan, pemain sepak bola Indonesia kebanyakan muncul pada usia 14 tahun, padahal, kalau di luar negeri para pemain itu sudah mulai bermain pada usia 4 tahun, meskipun dalam bentuk ‘game’. Namun pada usia seperti itulah, para pemain mudah menerima masukan yang berkaitan dengan displin dan filosofi sepak bola.
“Kalau kita lihat di lapangan Karebosi, kebanyakan anak-anak kelas 4 hingga 6 tahun. Kita lihat saja Ady Setiawan (kini di Dewa United), dia masuk Karebosi setelah tamat SMA,” kata wartawan senior tersebut.
Dahlan mengatakan, banyak pemain Indonesia yang berlatih di luar negeri, namun setelah kembali ke Indonesia bergabung dengan klubnya, tidak berkembang lagi. Hasil ‘perguruan’ di luar negeri selesai.
Alpianus pun memberi contoh, Erwin Moseng yang pernah berjaya melalui Piala Danone, setelah kembali ke Makassar, berkiprah sebentar di PSM, setelah itu ‘layu’, bahkan tidak mampu menembus sebagai pemain profesional.
Sadakati Sukma atas nama suporter menjelaskan, kita menjadi tidak enak karena berkaitan dengan suporter ini, Indonesia berada di bawah pengawasan FIFA. Kasus Stadion Kanjuruhan merupakan sebuah tamparan bagi Indonesia.
Soal pembinaan timnas, Saddakati Sukma menyebutkan bahwa semata-mata untuk membuat tim nasional menjadi jauh lebih baik.
“Dari kacamata suporter, PSSI mencoba memperbaiki kinerjanya, Sebab ada kesan, program sepak bola itu hanya ada di tingkat nasional,” kata Dewan Presidium Suporter Indonesia tersebut.
Bung Kusnaeni mengatakan, pemain bola profesional itu tidak hanya dibentuk oleh bakat. Kalau menurut para pakar, profesionalitas seorang pemain bola 30% saja oleh bakat. Yang 70% ditentukan oleh pembinaan dan kompetisi. Banyaknya kompetisi akan menentukan seberapa banyak pemain yang kita hasilkan. Dan bisa berkali-kali bermain. Kalau pada saat usia muda dikebut, pada usia 25 tahun mereka sudah layu. Sebab, ada masanya para pemain itu dibentuk ototnya, misalnya pada saat usia 18 tahun.
Berdasarkan teori, pembentukan otot yang ideal untuk pemain bola atau atlet muda umumnya disesuaikan dengan tahapan perkembangan fisik dan usia mereka. Anak-anak (di bawah 12 tahun): Fokus utama pada usia ini adalah pengembangan keterampilan dasar sepak bola dan aktivitas fisik yang menyenangkan. Latihan kekuatan atau pembentukan otot sebaiknya tidak terlalu intensif dan harus diawasi oleh pelatih atau profesional yang berpengalaman untuk memastikan keselamatan dan perkembangan yang tepat.
Remaja awal (12-14 tahun): Pada usia ini, anak-anak mulai dapat melakukan latihan kekuatan ringan dengan pengawasan yang tepat. Fokusnya masih pada pengembangan keterampilan teknis dan taktis dalam sepak bola, serta membangun dasar kekuatan dan stamina.
Remaja akhir (15-18 tahun): Pada usia ini, remaja dapat mulai melakukan latihan kekuatan yang lebih terstruktur dan intensif di bawah bimbingan pelatih kekuatan dan pengawas yang berpengalaman. Pembentukan otot dapat menjadi bagian dari program latihan mereka, tetapi harus seimbang dengan pemulihan yang cukup dan nutrisi yang tepat.
Dewasa muda (18 tahun ke atas): Pada usia ini, otot dapat dibentuk dengan lebih intensif melalui latihan kekuatan yang terstruktur dan terprogram.
Pemain bola dapat fokus pada peningkatan kekuatan, kecepatan, dan stamina mereka melalui latihan yang spesifik dan terarah.
Penting untuk diingat bahwa setiap individu berkembang dengan kecepatan yang berbeda, dan program latihan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan, dan tujuan masing-masing pemain. Selain itu, nutrisi yang tepat dan pemulihan yang cukup juga sangat penting dalam proses pembentukan otot yang sehat dan efektif. Konsultasi dengan pelatih, ahli gizi, atau profesional kesehatan sangat disarankan untuk merancang program latihan yang sesuai.












