Selain itu, pria tersebut juga sering mendatangi tempat pelacuran. Di sana, ia hanya menemui sejumlah pelacur lalu memberi mereka uang. Kepada para pelacur ia memberi uang sambil pria berkata, “Malam ini kalian sudah saya bayar, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.”
Kemudian pria itu ulang ke rumah. “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pria-pria Islam,” kenang perempuan tersebut menirukan ucapan sang suami.
Namun, orang sekitar hanya tahu bahwa pria yang meninggal tersebut selama ini adalah orang yang sering membeli dan minum-minuman keras serta mendatangi tempat pelacuran. Mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya.
Sang istri sering menasehati sang suami akan kebiasaan itu yang membuatnya khawatir. “Suatu saat nanti kalau kamu mati, tidak ada kaum muslimin yang akan mau memandikan, menyalati dan menguburkan jenazahmu,”
Mendengar ucapan sang istri, pria tersebut hanya tertawa sambil berkata “Jangan takut, nanti kalau aku mati, aku akan disalati oleh Sultanku, kaum muslimin, para ulama dan para wali,” jawab pria tersebut kepada istrinya.
Usai mendengar cerita tersebut, Sultan Murad IV pun mulai meneteskan air mata. Dia pun kemudian menyampaikan kepada istri pria tersebut bahwa ia merupakan Sultan yang sedang menyamar dan siap mengurusi jenazah pria tersebut sampai ke pemakaman.
“Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad dan besok pagi kita akan memandikannya, menyalatkannya, dan menguburkannya,”
Atas perintah Sultan Murad IV, jenazah ini akhirnya menjalani proses pemakaman yang dihadiri para ulama, para wali Allah SWT dan seluruh masyarakat Turki.
Hikmah dari Kisah Wali Allah dengan Sultan Murad IV
Di dalam bukunya yang berjudul Setia (Selagi Engkau Taat dan Ingat Allah), Yasir Husain mengatakan kita bisa memetik hikmah dan pelajaran dari kisah tersebut. Hikmah tersebut ada adalah tidak boleh seseorang menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan dari apa yang dia lihat.
Selain itu, kita dapat memetik pelajaran dari pria di dalam kisah tersebut. Ia selalu berjuang dengan gigih dan pantang surut dalam menebarkan kebaikan dan melenyapkan mengurangi keburukan.
Untuk itu, orang-orang boleh saja membenci kita bahkan seandainya semua manusia di dunia ini mencela kita tak perlu berkecil hati. Selama kita setia di jalan Allah SWT, selama kita masih mencegah keburukan dan mengajak pada kebaikan yakinlah bahwa Allah SWT selalu bersama kita. (*/Detik)












