Sandiwara Tikus: Literasi Antikorupsi Sejak Dini

“Di Indonesia, tikus kerap disimbolkan sebagai seorang koruptor. Menjarah atau mengambil sesuatu yang bukan haknya untuk digunakan baik secara pribadi maupun kelompok. Namun, di Australia, hewan ini justru dianggap mewakili symbol teroris. Misalnya, kasus bom bunuh diri yang terjadi di Bali,” ujarnya.

Sandiwara Tikus, sebuah lakon yang bercerita tentang manusia yang kerap merasa terganggu dengan kehadiran tikus di rumahnya. Meski telah digunakan berbagai cara untuk memberantasnya, tikus-tikus itu tetap saja ada bahkan jumlah mereka semakin banyak.

Sampai akhirnya, mereka mencoba mengimport perangkap paling canggih. Dengan harapan, tikus-tikus itu akan jera dan tidak lagi mengganggu kenyamanan hidup mereka sebagai manusia. Namun, ketika salah satu tikus tertangkap, justru terjadi pledoi atau semacam pembelaan diri dari Tikus.

Berikut antara lain dialognya:

ALI
Sebelum kami beri sanksi atas perbuatan jahatmu, apa permintaan terakhirmu Tikus?

Nina (Tikus):
Baik. Saya tidak minta apa-apa, wahai manusia. Saya hanya ingin bertanya kepada kalian. Siapa sebenarnya yang lebih rakus dan membuat kegaduhan.

BACA JUGA:  Amir Hafid "Rimba" Bakal Gelar Pameran Tunggal Budaya Kita Adalah Kita di Etika Studio

Bening (Tikus)
Kami hanya menelan separoh kue pudding. Membuat keributan hanya sebatas di atas plapon. Sementara kalian bangsa manusia, menelan pulau dan mengeruk isi tambang emas dan nikel. Mencuri uang rakyat untuk kesenangan pribadi. Membuat kegaduhan yang menyengsarakan rakyat.

Begitulah keputusan rapat malam itu. Mereka sepakat, akan menyisakan satu ekor tikus saja. Dengan sedikit sisa kemanusiaan yang mereka miliki itu, setidaknya si Tikus merubah semua perilaku yang melekat pada dirinya: suka mencuri yang bukan miliknya. Rakus. Jorok. Bau. Tidak tahu diri. Penebar teror.

*Tikus atau Kecoak*

Pada periode awal persiapan, Eko melakukan pendekatan Tokoh dalam naskah melalui metode menulis cerita. Jadi setiap anak, telah memilih satu karakter hewan yang menjadi topik untuk mereka eksplorasi. Ada dua pilihan: Tikus atau Kecoak.

Faktanya, Kecoak tidak dipilih. “Sewaktu saya tanya, jawaban mereka, wajahnya jelek! Dan sulit ditiru oleh mereka,” beber Eko.

Di sisi lain, pilihan karakter Tikus membuat para orang tua saat melihat latihan mereka, ya, lucu-lucu saja. Karena pilihan metafor hewan tersebut mengundang perasaan geli dan lucu. Lagi pula, korupsi hanya sebagai “payung” untuk para pemain berjalan di relnya. Sebab percakapan dalam dialog naskah sebagian besar berangkat dari keseharian mereka.

BACA JUGA:  MENULIS DENGAN PENA

Dalam melakukan proses, setiap pemain memiliki magnet yang berbeda-beda. Setiap potensi harus diberi ruang eksplorasi. Sehingga tidak ada upaya untuk menonjolkan satu anak. Tapi, dalam alur cerita, akan terbentuk dengan sendirinya.

Para pemain Lakon Sandiwara Tikus, sebagai Manusia: Ali, Tasnim, Daffina, Perry dan Devika. Sementara pada tokoh Tikus dimainkan Bening, Nina, Arkand, Nashkia dan Ghina.

Setelah Lakon Sandiwara Tikus, mereka akan dipersiapkan untuk lakon The Journey of Te Tuntel-Tuntel.

#Akuair-Ampenan, 27-06-2025