Ada pula mawar hasil persilangan yang dikenal sebelum Abad XVII, yang disebut old garden rose. Sementara modern garden rose, yang berkelopak ganda, sudah dikenal sejak tahun 1867. Apakah mawar-mawar itu yang ditawar dari jendela kamar?
Bagi seorang Goenawan Monoharto, objek yang kuat itu perlu. Sebagai fotografer, lensanya akan diarahkan agar menemukan angel yang unik.
Sebagai jurnalis, objek sebagai peristiwa selalu juga punya daya tarik. Begitupun sebagai penyair, peristiwa puitis akan direkonstruksi menjadi larik-larik yang dirangkum menjadi satu karya puisi. Dan tampaknya, ia memainkan berbagai peran itu dalam puisi-puisinya.
Ia mengajak kita ke Losari, Toraja, Kyoto, Manhattan, hingga Yerusalem. Ia berkisah, sesekali dalam bahasa Makassar, yang kita pahami, layaknya obrolan di kafe atau warkop.
Ia mengajak kita merawat tradisi, seperti rambu solo’, ma’badong, tunrung pakanjara, dan pakarena. Ia tak hanya menawarkan secangkir kopi untuk diseruput dalam puisinya, tapi juga menyodorkan biji-biji kopi sebagai uluran persahabatan dalam kehidupan nyata.
Diplomasi biji kopi ini, terasa ganjil, tapi tetap jadi pengingat, sebagaimana kita membaca buku-buku terbitan de La Macca.
Secara iseng, saya menelaah angka-angka dalam buku puisi ini. Secara kuantitas, terdapat 9 kali kata “mawar” muncul, dan 7 kali frasa “jendela kamar” digunakan.
Puisi pertama yang ditampilkan Pak Goen, bertanggal 25 Maret 2023, atau hanya berselang 4 hari dari tanggal lahirnya, 21 Maret 1957. Sedangkan puisi terakhir yang disertakan dalam buku, yakni bertanggal 25 Juni 2024.
Secara keseluruhan, puisi-puisi ini dibuat dalam rentang waktu 15 bulan. Walau, tidak tiap hari yang bersangkutan menulis puisi. Namun, dalam pengakuannya, kadang dalam sehari ada beberapa puisi tercipta.
Total keseluruhan puisi dalam buku ini berjumlah 87 puisi. Sungguh di usia 67 tahun, ia masih sangat produktif menulis puisi. Sebuah disiplin yang cukup terjaga.
selembar kartu pos dari negerimu
di ujung negeri berantah aku tunggu
salju memang belum cair semua
ranting sudah menampak daun muda
bagaimana keadaanmu di masa tua
Ada yang secara teks, kontekstual dan visual menarik dicermati dalam buku puisi ini. Kata HALELUYA—yang ditulis dalam huruf kapital dan ditempatkan di bagian tengah—muncul setelah puisi ke-34, dan masih ada 53 puisi selanjutnya.
Ini semacam ekstase penulis yang berteriak di puncak kemanusiaannya sebagai hamba. Penulis, dalam perjalanan usianya telah melakoni beragam pekerjaan dan profesi.
Sebagai jurnalis, fotografer, pemain teater, aktor film, penyair, penerbit, dan lain-lain. Belum lagi peran sebagai orangtua, suami, atasan, sahabat, dan peran sosial lainnya.
Sebagai orang yang hidup di kota, masyarakat urban, yang multi-kultur, persentuhan lintas budaya dan agama merupakan sesuatu yang tidak terelakkan.
Puisi bertanggal 24 Desember 2023 seperti melawan polemik dan berani bersikap: jane salam dari umar / selamat natal untukmu. Ungkapan yang kerap menimbulkan kontroversi setiap menjelang Natal.
Nah, terkait dengan Natal ini, yang jatuh pada tanggal 25 Desember, sepanjang hari itu, dan sehari sesudahnya, atau pada tanggal 26 Desember 2023, Goenawan sama sekali tak menulis puisi. Apakah karena ia sibuk menerima tamu, atau lagi khusyuk beribadah?
Puisi-puisi yang dibuat seputar Natal ini, terasa spiritualitas dan religiusitasnya.
Puisi-puisi dalam buku ini juga menampakkan hubungan personal dan emosional penulis dengan beberapa orang. Juga sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan terhadap orang-orang yang namanya disebut dalam puisi.












