Kisah sukses menggunakan teater sebagai sarana advokasi bisa dilihat pada Bela Studio yang membela anak-anak lewat teater. Bela Studio merupakan kelompok teater anak-anak di sebuah kampung di Rawamangun, Jakarta Timur. Kelompok teater ini dipimpin oleh Edi Haryono, yang pernah bergabung dengan WS Rendra di Bengkel Teater, Yogyakarta.
Mereka menampilkan cerita-cerita yang menggugah sekaligus menggugat dengan cara sederhana dan satir. Judul-judul pementasan drama musikalnya terasa ringan, seperti “Tikar”, “Be-Be (Belajar Bicara)”, “Tamasya ke Cakrawala”, “Rebutan”, “Ojek Payung”, dan “Siapa Belum Mandi?” (MJA Nashir, 2001). Mereka tampil di berbagai panggung sampai stasiun televisi.
Walau begitu, sesungguhnya teater ini tidak hidup dalam gemerlap selebritas. Sebaliknya, mereka mengungkap kenyataan hidup anak-anak yang tinggal di lorong-lorong sumpek dan sempit. Tidak ada tempat bermain. Motorik halus anak tidak terbentuk. Anak-anak kemudian mengalami rabun jauh akibat menonton TV terlalu dekat. Pasalnya, mereka tinggal di rumah-rumah yang kecil, dan sesak.
Potret miris kehidupan anak-anak yang diolah dan dibawa ke panggung teater itu, dalam konteks hot issue, menyuguhkan problem kemiskinin, tiadanya ruang publik dan ruang bermain ramah anak, serta marginalisasi dan potret pembangunan yang diskriminatif. Dari pemberdayaan dengan pendekatan teater yang dilakukan Bela Studio, tergambarkan bahwa persoalan-persoalan anak, termasuk pembelajaran mereka di sekolah, banyak terkait dengan lingkungan sekitar anak-anak itu berada.
Kisah Bela Studio yang saya baca ini, dalam suatu kesempatan, pernah saya ceritakan kepada Bahar Merdu. Sebagai orang teater, dia pasti mengetahuinya. Saya cuma mau berbagi saja, atas kesan mendalam saya terhadap pemanfaatan teater sebagai metode untuk memberdayakan dan membangun kesadaran kritis anak-anak. Oleh Bela Studio, teater juga digunakan sebagai medium menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada anak.
***
Bahar Merdu, lewat teater anak-anak GRISBON sudah lama melakukan kerja kultural melalui teater. Sutradara teater ini bahkan masuk kategori Maestro. Tahun 2019, ia menjadi bagian dari program Belajar Bersama Maestro, yang diadakan Kemendibud RI. Sederet penghargaan pernah diperoleh. Bahar Merdu merupakan penerima Celebes Award 2004, Sutradara Terbaik Festival Nasional Teater Remaja 2013, Sutradara Terbaik Festival Nasional Teater Anak-Anak 2015, dan Sutradara Terbaik Festival Nasional Teater 2016.
Karyanya yang ikonik kita jumpai pada rombongan Sandiwara Petta Puang yang dibesutnya. Petta Puang menghadirkan sketsa hidup masyarakat dalam relasi kuasa atasan-bawahan, juragan-jongos, bangsawan-jelata, yang digambarkan secara karikatural dan jenaka. Saya beberapa kali menonton pertunjukan langsungnya di panggung. Idiom-idiom khas Bugis dan Makassar yang dilontarkan oleh para pemain, membuat kita tak kuasa menahan tawa. Walau begitu, terasa pula ada yang menggelitik di kuping. Namun kemasan kritik yang ditampilkannya tetap segar menghibur, tak sampai membuat hati panas.
Bahar Merdu yang menghimpun anak-anak tetangga di kompleks Griya Barambong ke dalam Teater GRISBON, kali ini memproduksi pertunjukan Teater Anak-Anak berjudul, LA COKI, yang didasarkan pada cerita rakyat “Meongpalo KarellaE”. Kisah kucing dan tikus yang bersumber pada Sureq La Galigo ini akan ikut pentas dalam perhelatan festival multi-event, Makassar International Eight Festival and Forum atau F8 (Food, Fashion, Fusion Music, Film, Fine Art, Fiction Writers, Folks dan Flora-Fauna) yang diadakan Pemkot Makassar, Juli 2024.












