Kepala sekolah bersama Melinda pun Bergegas ke kantor Dinas Pendidikan dan setelah mendapat penjelasan bahwa yang juara satu berhalangan ikut lomba sehingga Ibu Guru Melinda yang menggantikan untuk mengikuti lomba. Mereka kembali ke sekolah. Kepala sekolah mengajak teman-teman guru membantu Melinda menyiapkan kelengkapan berkas dan bahan-bahan lomba yang diperlukan.
Menjelang malam, Melinda dan teman-temannya kembali ke rumah masing-masing, Melinda melanjutkan persiapannya di rumah. Tanpa terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, sambil berguman ia berucap alhamdulillah semua persiapan selesai, ia ke kamar sejenak melihat ke dua putri kecilnya yang tertidur pulas denga penuh kasih sayang Melinda mencium kening ke dua putrinya sambil berdoa anakku sayang permata hatiku, besok Ibu akan mengikuti lomba guru berprestasi kalian jangan rewel jangan menyusahkan ayahmu. Ayahmu akan menjagamu dan kelak kalian akan menjadi putri yang cerdas dan berprestasi, kata Melinda sambil meneteskan air mata, mengenang nasibnya yang sampai saat ini masih guru Honorer.
Melinda menghela napas panjang dan menghapus air matanya kemudian keluar kamar, ia takut putrinya terbangun, lalu bergegas berwudhu untuk melaksanakan shalat malam. Dalam sepinya malam dikala orang-orang masih terlelap dalam tidurnya dengan derai air mata Melinda berdoa:
Ya Allah besok saya diberikan amanah untuk mengikti lomba guru berprestasi tingkat provinsi
Ya Allah semua kemudahan datangnya dari Engkau
Tidak ada kesulitan dengan izin dan kemudahan dari -Mu ya Allah
Untuk itu ya Allah berikan aku kesehatan
Berikan aku kemudahan, berikan aku petunjuk
Izinkan aku untuk meraih juara yang terbaik disisi-Mu ya Allah
Angkat derajatku dan bukakan jalanku untuk bisa menjadi PNS
Sebagaimana engkau mudahkan orang lain untuk menjadi PNS
Kabulkan Doaku ya Allah
Melinda menutup Doanya sambil menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya.
Setiap kali ia mengingat dirinya sebagai guru Honorer maka saat itu juga hatinya sedih, perih, sudah 15 tahun ia mengabdi sebagai guru honorer. Sebagai manusia biasa kadang ada rasa putus asa, rasa kecewa, apalagi melihat anak anaknya yang selalu bangga melihat dirinya sebagai seorang Ibu Guru, belum lagi tetangga yang terkadang bertanya sudah berapa lama kamu sebagai guru honorer kapan akan diangkat PNS. Saat-saat seperti itu satu satunya kekuatannya adalah kembali mengingat Allah dengan keyakinan suatu saat nanti doaku akan menembus langit, Allah akan kabulkan doaku dan terangkat sebagai PNS.
Keesokan harinya tepat pukul 06.30 Melinda pamit pada suami dan putrinya tak lupa juga pamit kepada kepala sekolah dan teman-teman guru di sekolahnya, berharap Doa agar ia pulng dengan membawa juara. Melinda berangkat ke Makassar dengan menumpang pada guru yang akan ikut juga lomba. Melinda mengikuti setiap sesi lomba dengan baik.
Akhirnya malam pengumumanpun tiba, satu per satu nama disebut nama Melinda belum muncul ia hanya diam dan berharap Ridho Allah untuk tidak mengecewakan putrinya, kepala sekolahnya dan Dinas Pendidikan, akhirnya nama Melinda disebut sebagai Juaran II. Dengan derai air mata bahagia ia mengucapkan Alhamdulillah berulang ulang kali, ia tampil menerima Piala dengan rasa haru penuh bahagia, bagaimana tidak dia hanyalah seorang guru honorer tapi dapat meraih juara 2 tingkat Prov Sulsel. Ya Allah terima kasih engkau kabulkan Doaku, juara II itulah juara yang terbaik bagi ku di Sisi-Mu,
Keesokan harinya Melinda menyempatkan ke ruangan Panitia untuk pamit Saat itu ia mendengar panitia menyebutkan bahwa Melinda juara II karena kelengkapan berkas dari Kabupaten tidak terpenuhi. Meskipun semua item lomba mendapat nilai terbaik. Mendengar itu dalam hati Melinda berjanji setelah kembali ke sekolah semua administrasi akan ia lengkapi, ternyata kelengkapan administari tidak bisa dipandang enteng dan wajib untuk dipenuhi.












