Angkat Kearifan Lokal Maritim Tomia ke Panggung Seni, Ratusan Siswa dan Guru Ikuti Workshop 

Suasana workshop berlangsung amat semarak dan penuh antusiasme. Ratusan siswa tampak begitu bersemangat saat mempraktikkan secara langsung contoh-contoh olah gerak tubuh, mulai dari gestur mengayuh perahu, menavigasi sampan, teknik mendayung bose, hingga eksplorasi gerak menangkap ikan dengan parapolo. Tak kalah menarik, para peserta juga mengeksplorasi berbagai fungsi dan permainan kreatif menggunakan sarung adat (kampurui), yang ditransformasikan menjadi elemen olah gerak pertunjukan teater dan tari kolaboratif.

Beberapa identitas budaya maritim lokal yang menjadi fokus eksplorasi materi workshop meliputi:

Tradisi Parapolo: Aktivitas menangkap ikan secara tradisional menggunakan perangkap bubu dari anyaman bambu/rotan yang sarat filosofi ramah lingkungan serta konservasi laut berbasis adat. Di dalam workshop, gerakan memasang dan memantau parapolo diolah menjadi komposisi gerak teatrikal yang dinamis.

Tradisi Bose (Dayung Sampan): Tradisi bernavigasi dan mendayung sampan khas bahari Tomia. Bose bukan sekadar teknik mengarungi lautan, melainkan simbol ketangguhan jiwa kebaharian, ketahanan mental, serta harmoni antara masyarakat pesisir dan gelombang lautan. Para siswa mempraktikkan ritme dan sinkronisasi gerak dayung ini ke dalam ritme seni pertunjukan.

BACA JUGA:  Museum Benyamin Sueb akan Digelar Baca Puisi Penyair Perempuan Merah Putih

Multifungsi Kampurui (Sarung Khas Wakatobi): Penggunaan sarung tradisional dalam kehidupan sehari-hari, atribut adat, hingga media permainan rakyat dan tarian. Dalam sesi praktik, sarung dimanfaatkan secara fleksibel sebagai properti pertunjukan yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan (poasa-asa pohamba-hamba).

Melalui pelaksanaan workshop interaktif ini, penyelenggara menargetkan lahirnya karya-karya sastra dan pementasan teater baru yang kolaboratif berbasis kearifan lokal bahari/maritim dari kalangan siswa, serta proposal kegiatan kebudayaan yang berkualitas dari para guru dan komunitas. Dalam jangka panjang, luaran kegiatan ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi festival kebudayaan tahunan yang turut mendukung promosi Pulau Tomia dan Wakatobi sebagai destinasi wisata dunia yang berkarakter dan berkelanjutan.