Ali dan Workshop Penulisan Kreatif

Pukul 19.00 waktu istirahat telah usai. Ruangan masih lengang. Angin dari AC bertiup lembut dan bertambah dingin. Bunyi derik pintu saat orang memasuki ruangan cukup mengilukan membuat kening berkerut.

“Semua anggota tubuh kita adalah sumber ide,” ujar Pak Rusdin Tompo.

Ia lantas berdiri di tengah-tengah ruangan sambari memperagakan bahwa dari mata kita dapat menemukan ide, dari kaki kita bisa menemukan ide, dari telinga sekalipun kita dapat menemukan ide.

“Mind map atau peta pikiran adalah salah satu cara dalam membuat kerangka penuoisan,” sambungnya.

Dengan antusias Pak Rusdin Tompo mengangkat lukisan yang sedari tadi tergeletak di pojok ruangan. Dia lalu meminta setiap peserta untuk memberikan tanggapan terkait hal menarik apa yang ingin dituliskan.

Peserta dalam ruangan memberi pandangan yang berbeda pada karya yang sama. “Inilah sudut pandang dalam melihat karya. Begitu juga dengan menulis. Ada sudut pandang,” paparnya.

Di akhir pertemuan setiap peserta diberi waktu selama beberapa menit untuk membuat sebuah tulisan serta membacakannya.

BACA JUGA:  Presiden Fosait Usul Sastra Kepulauan: Religius

Mula-mula salah seorang peserta ditunjuk untuk membacakan tulisannya. Tawa spontan terdengar, serta tepuk tangan mengiringi saat tulisan usai dibacakan.

Semua peserta mempunyai giliran yang sama untuk membacakan karyanya.

Workshop menulis kreatif seni rupa ini diakhiri dengan sesi foto bersama dan bertukar tawa dalam balutan canda.

Sayangnya, Ali tak mengikuti workshop tersebut sampai selesai. (*)