Religi  

Panggilan Tasawuf dalam Nada Kolak

“Duduk ki’ dulu bang Maman, saya ke belakang,” kata Om Awing.

“Iye’ Om.”

Saya duduk, memperhatikan sekeliling. Tidak lama, suara langkah dari dapur terdengar. Om Awing muncul membawa dua piring besar.

Kolak pisang.

“Ini kesukaan ta’, Bang Maman. Kalau kue lebaran, pasti tidak terlalu suka ki'”, katanya sambil meletakkan piring di depan saya.

Saya tertawa kecil.

“Hahaha… Om tau saja.”

Saya menatap om awing, lalu bertanya,
“Tapi dari mana ki’ tau, Om, kalau saya suka kolak?”

Om Awing duduk, tersenyum santai.

“Kan saya sering ke lorong ta’. Saya tanya-tanya ibu-ibu di sana. Jadi saya tau kesukaan ta’,”

Saya terdiam sejenak.

Dalam hati saya berkata, ternyata diperhatikan itu rasanya begini.

Kami mulai makan. Sendok pertama masuk ke mulut, hangatnya kolak seperti langsung menyentuh perasaan. Tapi yang lebih hangat adalah suasana percakapan yang mengalir tanpa beban.

“Bang Maman,” kata Om Awing tiba-tiba,
“itu buku ta’ “Ketika Kata Menjadi Mantra”… itu bukan buku biasa.”

BACA JUGA:  Kisah Muslim Jepang Syekh Ahmad Maeno, Mualaf Sejak Remaja

Saya mengangkat wajah, sedikit heran.

“Maksudnya, Om?”

“Itu buku langka. Itu buku menurut saya sudah masuk dalam wilayah tasawuf modern.”

Saya diam.

“Masa sih, Om?” tanya saya pelan.

“Iye’. Tidak semua orang bisa menulis seperti itu. Kata-kata ta’ itu bukan sebatas kata. Ada rasa, ada perjalanan batin di situ.”

Saya menunduk, mengaduk pelan sisa kolak di piring yang sudah hampir finis.

Dalam hati saya berkata, saya saja tidak pernah mendefinisikan buku itu sedalam itu. Saya menulis sebagaimana penemuan batin dan spritual yang saya dapat dari tete/ kakek.

Percakapan mulai bergeser. Dari buku, masuk ke diri. Dari diri, masuk ke sesuatu yang lebih dalam.

Om Awing menatap saya, lalu berkata pelan,
“Bang Maman, sejatinya diri itu… ada dalam tubuh ta’.”

Saya terdiam sambil mengambil HP membuka aplikasi noted. Fokus.

“Ada Nur Muhammad—itu diri sejati.
Ada Nur Ikhsan—itu jiwa.
Ada Nur Hayat—itu hidup.
Ada Nur Dzatullah—itu tubuh nyawa…”

Saya mulai mencatat di noted HP.

BACA JUGA:  Hikmah Jumat : Pejabat Masuk Surga Karena Jabatannya

“Pelan-pelan, Om…” kata saya.

Ia tersenyum.

‘Tenang ki’, ini memang tidak boleh cepat.”

Om Awing melanjutkan, menyebut satu per satu. Tentang qolbu, tentang nafas, tentang sirrullah keluar masuknya nafas yang ternyata bukan sebatas proses biologis, tapi jalan kesadaran.

Saya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Di satu titik, saya bertanya,
“Om… ini semua… kenapa jarang sekali dibahas?”

Om Awing tersenyum tipis.

“Karena tidak semua orang siap dengar. Dan tidak semua orang mau cari.”

Saya terdiam.

Kalimat itu sederhana, tapi seperti mengetuk sesuatu di dalam diri saya.