Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa sumpah palsu bukanlah hal sepele, melainkan jalan menuju murka Ilahi yang kekal.
Kini, dunia mungkin masih diam. Hukum bisa saja belum menjeratnya, sebab kebohongan sering pandai menyamarkan diri di balik bukti formal.
Namun azab Tuhan tak pernah buta, dan waktu tak pernah memaafkan kebohongan yang diucapkan dengan menyebut nama-Nya. Sumpah yang diucapkan atas nama Allah tidak akan hilang ditelan waktu. Ia tercatat di Lauhul Mahfuz, dijaga oleh malaikat pencatat amal, dan akan dibuka kembali di hadapan seluruh makhluk pada hari pembalasan.
Mungkin hari ini ia masih berjalan dengan bebas, masih tertawa seolah tak terjadi apa-apa. Tapi di balik tawa itu, ada utang sumpah yang belum dibayar.
Mungkin ia masih merasa aman, namun azab Allah datang tanpa aba-aba—bisa berupa penyakit yang tak kunjung sembuh, rezeki yang tertutup, keluarga yang berantakan, atau hati yang hampa tanpa rasa damai.
Semua itu bukan kebetulan, melainkan peringatan agar ia sadar sebelum terlambat.
Sumpah palsu adalah jerat yang dipasang oleh lidah sendiri. Sekali terucap, ia menjadi racun yang perlahan menggerogoti jiwa.
Dan bagi mereka yang menjadi korban dari sumpah palsu itu, tidak perlu membalas dengan kebencian. Biarkan waktu dan Tuhan yang menegakkan keadilan.
Karena setiap kata dusta akan menuntut balasnya sendiri, dan setiap nama Allah yang dipermainkan akan kembali dengan murka yang tak terhindarkan.
Maka siapa pun yang pernah bersumpah palsu, sadarilah: azab itu bukan sekadar ancaman, tapi janji yang pasti.
Barangkali ia belum datang hari ini, belum besok, tapi ia akan tiba, sebab Tuhan tidak pernah lupa pada nama-Nya yang dipermainkan.
Dan ketika azab itu datang, tidak ada hakim yang bisa menunda, tidak ada pengacara yang bisa membela, sebab yang menjadi saksi adalah sumpahnya sendiri — kalimat yang dulu diucapkan dengan enteng, namun kini menjadi palu keadilan dari langit.
Makassar, 30 Oktober 2025












