*Prof. Dr. Nita Rukminasari, SPi., MP*
Menyampaikan pidato pengukuhannya yang berjudul “Peran Mikroalga Dalam Mitigasi Pengasaman Laut”.
Sebagai pengantar, laut memiliki peranan penting dalam siklus karbon global melalui proses fisika dan biologis yang terjadi, laut mampu menyerap dan melepaskan karbon dioksida. Pemanasan global dan pengasaman laut merupakan tantangan serius yang dihadapi. Dalam upaya mencari solusi yang berkelanjutan dan inovatif, penelitian tentang peran mikroalga dalam mitigasi pengasaman laut telah memberikan pandangan baru dan potensi solusi yang menjanjikan.
Lebih lanjut, Prof Nita menuturkan pentingnya implementasi penelitian ini tidak hanya terletak pada penggunaan mikroalga sebagai agen penyerap CO2, tetapi juga sebagai katalisator untuk perubahan paradigma dalam kebijakan lingkungan dan praktik industri. Langkah konkrit seperti penggunaan mikroalga dalam pengolahan gas buang, produksi biomassa untuk bahan bakar terbarukan merupakan bagian integral dari solusi holistik yang dapat mengatasi pengasaman laut.
“Dengan penelitian yang terus menggali potensi mikroalga dan penerapan temuan penelitian secara bijaksana, upaya global untuk melestarikan keberlanjutan lingkungan laut akan memberikan dampak yang berkelanjutan,” jelas Nita.
Secara umum, Prof Nita menambahkan prospek penelitian tentang mikroalga dalam mitigasi pengasaman laut sangat tinggi mencakup sejumlah aspek yang relevan dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim pada lingkungan laut.
*Prof. Dr. Mahatma Lanuru, ST., M.Sc*
Pada hasil penelitiannya yang berjudul “Peran Oseanografi dan Dinamika Sedimen dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut”. Dalam kesempatan tersebut, Prof Mahatma mengatakan upaya mengelola wilayah pesisir dan laut beserta ekosistem didalamnya dengan tetap mempertahankan prinsip kelestarian, diperlukan pengetahuan yang baik tentang kondisi lingkungan, potensi sumberdaya alam, keadaaan sosial ekonomi masyarakat hingga jenis budaya yang terdapat dalam kawasan yang dikelola.
Salah satu aspek lingkungan yang penting untuk diketahui agar pengelolaan dapat dilaksanakan dengan tepat dan efisien adalah aspek oseanografi dan dinamika sedimen. Hal ini disebabkan karena perairan berupa fluida tidak mengenal batas administrasi atau ekologi, sehingga jika perairan suatu lokasi tercemar, maka dampaknya akan tersebar ke kawasan sekitarnya.
Prof Mahatma menambahkan, aspek oseanografi adalah salah satu aspek lingkungan yang berperan dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut. Peran data dan informasi oseanografi dalam pengelolaan berbasis ekonomi adalah menjaga stabilitas ekosistem khususnya tiga ekosistem utama di wilayah pesisir yaitu mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Peran lainnya adalah untuk mitigasi erosi dan sedimentasi Pantai.
“Aktivitas pada pesisir di satu wilayah administrasi dapat memberikan dampak pada wilayah administrasi lain karena kedua wilayah tersebut terletak dalam satu sel sedimen. Karena itu, pemahaman dinamika sedimen menjadi penting dalam perencanaan pesisir utama masalah erosi dan sedimentasi pantai,” jelas Prof Mahatma.
Kegiatan Rapat Paripurna Senat Akademik dalam rangka Upacara Penerimaan Jabatan tiga Guru Besar pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan berlangsung lancar dan hikmat hingga pukul 11.00 Wita. (*)
Kepala Humas Unhas
Ahmad Bahar












