Skema: HEBOH SASTRA MASUK KURIKULUM MERDEKA, APA KATA DUNIA?

Padahal dengan sebagian pengarang yang sudah wafat pada daftar buku rekomendasi, serta konperensi pers dan peluncuran program yang dihelat besar-besaran di Kemendikbud, Senin lalu (20/5), apa sulitnya menghormati para pengarang yang masih hidup dan karya mereka tercantum pada daftar 177 karya sastra rekomendasi (43 karya untuk SD/MI, 23 karya untuk SMP/Mts, 105 karya untuk SMA/MI)? Apalagi di era digital ketika para pengarang memiliki akun media sosial di pelbagai aplikasi yang mudah dihubungi.

Dari hal kecil ini kita mengancik problem yang lebih besar.

2/
Sastrawan Nirwan Dewanto–buku kumpulan puisinya _Jantung Lebah Ratu_ (2008) juga termasuk dalam daftar karya sastra rekomendasi untuk siswa jenjang SMA/MI–sudah menyiarkan Surat Terbuka kepada Kurator Sastra Masuk Kurikulum 2024 dengan rangkaian diksi yang lebih tajam dari sengatan lebah ratu.

Saya kutip cuplikan kritiknya tentang buku _Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra_ yang sudah beredar luas itu:

—–
“Buku” di atas jelas tidak memenuhi standar perbukuan yang mana pun: sajiannya buruk, penyuntingannya buruk, bahasanya buruk, isinya buruk, dan seterusnya. Saya katakan satu hal saja, sebagai contoh: “buku” itu menyebarkan disinformasi, jika bukan kebohongan; mengandung bukan hanya kesalahan-keteledoran, tetapi kesalahan yang bersifat “sistematis” akibat cara kerja yang bobrok. Susah dipercaya, bagaimana mungkin hasil kerja yang seceroboh dan seburuk ini (akan) digunakan untuk memajukan pendidikan dan persekolahan.
—–

BACA JUGA:  Direktur Politeknik Sandi Karsa Lantik Presiden BEM

Saya mendukung ketajaman kritik Nirwan. Sebab, informasi tentang diri saya sendiri pada subbagian Latar Belakang Penulis (hal. 705) semuanya k-e-l-i-r-u. Tidak sebagian kecil, tidak separuh. Semuanya.

Dari tanggal lahir (tertulis 3 Juli 1946, yang berarti usia saya hanya lima tahun lebih muda dari ayah saya yang lahir pada 1941), tempat lahir saya (tertulis Bukittinggi, sementara saya lahir di Jakarta), pendidikan saya (tertulis pendidikan dasar dan menengahnya di Bukittinggi, sedangkan pendidikan tinggi dijalani di Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat. Padahal saya bersekolah TK, SD, SMP, SMA di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, dan pendidikan tinggi di FISIP Universitas Indonesia, Depok).

Kaitan saya dengan Universitas Andalas hanya sebagai penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Sastrawan/Budayawan Nasional pada acara yang berlangsung di kampus FIB Unand, Desember 2022. Penghargaan diberikan oleh Dekan Prof. Dr. Herwandi, M. Hum. Di antara penerima lainya, untuk kategori Akademisi/Peneliti Internasional diberikan kepada Prof. Yumi Sugahara, filolog dari Universitas Osaka, Jepang.