Utak Atik Ana Makassar Basar di Ambon

“Kita patut belajar pada kisah kehidupan keluarga Rusdin Tompo, saya sebagai anak Ambon yang besar di Makassar, menaruh penghormatan mendalam pada sosok Rusdin Tompo mengukuhkan jiwa Makassar dalam dirinya sebagai cermin akulturasi dalam harmoni Indonesia yang begitu plural,” pungkasnya.

Sementara itu Pdt. Michael Matulessy dalam paparannya bahwa ketika ia membaca buku ini, perasaannya campur aduk.

“Karena Beta belum paham kehidupan di Air Putri karena Beta tinggal di Batu Gajah. Setelah Beta baca baru tahu kehidupan di Air Putri,” sebutnya.

Ia juga menyampaikan bahwa saat ini di Ambon, toleransi dan keberagaman telah bergeser.

“Semua gambaran setelah tahun 70-an berubah sama sekali, sekarang kehidupan telah terkotak-kotak. Tradisi Pela Gandong sudah mulai terkikis,” ucapnya.

“Hubungan toleransi di Ambon sudah hilang dalam sekejap dan tradisi panas pela harus dijalin kembali. Jadi bahasa kuncinya adalah Toleransi,” tandasnya.

Lebih dalam, Yudhistira Sukatanya menyampaikan bahwa buku berisi 190 halaman ditambah pengantar, sekapur sirih dan lain-lain menjadi 200 halaman ini, terdiri dari 5 bagian dengan 35 sub bagian

BACA JUGA:  Kadis Perpustakaan Makassar Hadiri Launching Buku "Mimpi yang Tak Dianggap"

“Buku ini naratif dan power full (penuh warna) seperti yang disampaikan oleh Rusdin Tompo tadi,” ucapnya.

“Jika kita membaca buku ini, kita seperti membaca esai sosiologis,” kata Sutradara Teater ini.

Penutup kata, ia menyampaikan kepada Dahlan Abubakar yang kebetulan duduk di barisan terdepan, “Pak Dahlan, Kita tidak perlu gelisah karena sudah ada pelanjut kita yang menulis dengan rancak banak,” pungkasnya.

Ana Makassar Basar di Ambon
Foto bersama usai diskusi

Selain ketiga pembicara ini, sejumlah tokoh, sastrawan dan akademisi memberikan tanggapan dan menyampaikan kekagumannya terhadap penulis.

Mereka di antaranya, Ishakim, Dahlan Abubakar, AB Iwan Azis, Idwar Anwar, Prof Kembong Daeng, Prof Nurhayati Rahman, Prof Sukardi Weda, Amir Jaya, Andi Ruhban serta sejumlah akademisi juga menyampaikan pendapatnya.