Sepuluh Penulis “Bersekutu” dalam “Koordinat Rasa”

“Orang Jawa studi tour ke rumah saya,” ujar Ratna Sari.

Tulisan Ratna Sari yang pertama, “Perjalanan Menenun Laut” mengenangkan saya pada puisi D.Zawawi Imron berjudul “Mencari Bisik”. Pada tiga baris bait terakhir puisinya yang ditujukan kepada almarhum Mappinawang yang dimuat di dalam buku Mengenang Jejak Mappinawang, Santri Pejuang HAM dan Demokrasi, Zawawi Imron menulis begini:

Aule, ini perahu daun ilalang
Aku naik sampan salawat
Mencari badik-badik di ubun buih….

Jadi, saya membayangkan pesan yang begitu kuat bagaimana potensi laut itu dimanfaatkan. Setelah membaca tulisan-tulisan Ratna Sari berikutnya, saya teringat pesan mendiang Prof.Dr.Mattulada.

“Berhentilah mengobrak-abrik daratan. Marilah kita mulai mengeruk potensi laut kita yang kaya raya,” pesan Mattulada puluhan tahin silam.
Dan saya merasa, sukma Prof. Mattulada tersimbolkan dalam jejak-jejak inovatif yang dilakonkan Ibu Ratna Sari. Laut merupakan akumulasi begitu banyak personifikasi kehidupan nyata manusia dan menjadi guru kehidupan terbaik. Pasang surut kehidupan pun beranalogi pada laut. Selamat buat Sang Penenun/Penyulam Laut, perempuan penyumbang empat tulisan di dalam buku ini.

BACA JUGA:  Ali dan Workshop Penulisan Kreatif

Zulhikma Julinda, lahir dan besar di Makassar. Namanya termasuk penyumbang di dalam buku ‘Koordinat Rasa”. Perempuan ini adalah CEO PT Zulhikma Jaya Abaadi, Pun pemilik dua ‘brand’ inspiratif, ZetBerry dan Zperfume.

“Sebagai ibu tunggal, saya membuktikan, mimpi besar dapat tumbuh dari perjuangan yang nyata,” ucap penulis “Senyuman di Balik Lelah Hati” dan “Hidup Selau Ada Hikmah” yang dimuat di dalam buku ini.

Gerhanita Syam berkata, perjalanan hidup membawanya memiliki banyak peran. Sebagai direktur beberapa perusahaan hingga pemilik Green Kafe 22.

Selain berurusan bisnis, perempuan ini selalu berusaha dekat dengan masyarakat. Kini dipercaya sebagai Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) UKM IKM Nusantara Sulsel dan Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan-Perempuan Indonesia Maju, dan sejumlah jabatan lainnya. “Rumah Tumbuh yang Bernapas”, satu tulisan yang menghiasi buku ini menarik disimak.

Risnawati Anwas, lulusan S-1 FKM UIN Alauddin dan S-2 Unhas, kini berkarier sebagai dosen profesional dan bersertifikat di Politeknik Indonesia Makassar. Sudah pernah menulis buku ajar. Di dalam “Koordinat Rasa” tulisannya berjudul “Langkah Kecil dari Tamaona”.

BACA JUGA:  Ingat!!! Workshop Teaterikalisasi Sanja Mangkasara akan Digelar, Catat Waktu dan Tempatnya

Tamaona, yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Tombolopao Kebupaten Gowa, pada paruh tahun 70-an merupakan juara I Lomba Desa se-Sulsel. Desa ini sangat indah dan tersembunyi di balik kontur bumi pegunungan yang menawarkan sejuta pesona.