Sepuluh Penulis “Bersekutu” dalam “Koordinat Rasa”

Kisah lain. Satu ketika Bang Maman ke Jl. Sultan Alauddin. Tiba-tiba seorang ibu-ibu yang menunggang Alphard, membuang sampah, menimpa motornya.

“Saya berhentikan mobil itu. Anda boleh lewat, tetapi hati Anda jangan melewatkan etika,” hunjamnya ke penunggang monil mewah itu.

Bagaimana Bang Maman ‘menggoda’ para penulis ini?

“Jika tak memulai, Anda akan kebingungan. Mulailah dari awal dari Anda berpikir. Jika ada ide langsung eksekusi. Tidak menunggu sampai besok,” dia mengungkapkan kiatnya ‘menaklukkan’ hati para penulis hingga terwujudnya buku ini.

Pesannya, “lakukan apa yang Anda pikirkan. Jangan pikirkan apa yang Anda akan lakukan. Kalau tidak akan menyulitkan,” ujar lelaki ramah dan humor yang menyumbang lima tulisan di dalam karya kolaborasi ini.

Bagi Asrul Sani, menulis yang penting adalah tindakan. Sesuatu yang hanya dipikirkan namun tanpa tindakan, semuanya hanya tetap menjadi sebuah impian yang tak tereksekusi.

Pria kelahiran Parepare 8 Juli 1973 ini, meskipun dirubung banyak aktivitasnya sebagai pengusaha, dia sudah menemukan keasyikan tersendiri dalam menulis. Tidak heran, ‘bos’ sejumlah perusahaan dan inisiator Kampus Literasi ini sudah banyak melahirkan karya buku.

BACA JUGA:  The Last Pepadu

“Terima kasih Pak Asrul, “Buku untuk Ibuku”, telah menginspirasi saya menulis buku untuk ibu juga,” kata saya kepada pria yang mendonasikan tiga tulisan di dalam “Koordinat Rasa” tersebut.

Ratna Sari, S.Pi., M.Si., perempuan kelahiran Ujungpandang 14 Juli 1977, bukan sosok biasa. Di tangannya telah lahir sedikitnya 50 produk inovasi. Semuanya terkait produk sumber daya laut.

Produk itu dilatarbelakangi oleh pendidikan D-3 Politeknik Pertanian Negeri Pangkep, S-1 (Unismuh Makassar) dan S-2 (UMI) yang mengkaji sumber daya perairan.

Dia mengakui, acara peluncuran buku ini merupakan momen yang sangat luar biasa. Di dalam buku ini dia mendonasikan empat tulisan. Dia bertutur bagaimana berkarya dan berinovasi. Dia dijuluki perempuan yang “Menenun laut”. Dia mengakui, inspirasi dari karyanya diperoleh dari media.
Sejak 2012 dia mengawali inovasinya dengan membuat sabun dari rumput laut.

“Sulsel sangat kaya dengan rumput laut. Ada 50 jenis karya inovasi dan tidak ada samanya di Indonesia. Minyak herbal rumput laut, sudah ada hak patennya,” ungkap Ratna Sari.

BACA JUGA:  Ali dan Workshop Penulisan Kreatif

Perempuan dari Tanah Doang, Selayar, ini, terilhami dari kakeknya yang nelayan. Kakeknya, adalah sang penenun buih menjadi keris. Sebuah doa dan harapan dan diwujudkan dengan karya-karyanya.

Hasil inovasinya sudah memicu tawaran berdatangan dari beragam penjuru. Tawaran kerja sama banyak. Dari Amerika, Bali, Lampung, dan juga dari Australia.