Sepuluh Penulis “Bersekutu” dalam “Koordinat Rasa”

“Hidup adalah serangkaian pengalaman: setiap pengalaman membuat kita lebih besar, walaupun kita tidak menyadarinya,” Henry Ford, pengusaha Amerika kelahiran 30 Juli 1863 dan meninggal 7 April 1947, yang terkenal dengan merek mobil, berkata.
Viscount Samuel, seorang politikus liberal asal Inggris pun menimpali.

“Seni hidup adalah seni menggunakan pengalaman-pengalaman Anda sendiri dan pengalaman orang lain”.
Dan, sepuluh orang di dalam “Koordinat Rasa” ini telah menunaikan pesan kedua sosok hebat tersebut.

Sang Pemicu

Suatu aksi selalu menghadirkan seorang ‘aktor’. “Impian yang berharga patut diceritakan pada orang lain,” kata John. C.Maxwell, salah seorang pendeta dan penulis Amerika yang banyak berfokus pada masalah kepemimpinan, menitipkan kepada kita. Dan pesan Maxwell itulah yang kemudian ditangkap oleh Bang Maman yang menskenarioi lahirnya buku mungil ini.

Maman, salah seorang pekerja sosial yang super aktif dan ulet tanpa kenal waktu dan ruang, boleh dikatakan sebagai kamus literasi berjalan. Setiap menapaki kehidupan ini, dia selalu mengantongi kertas. Pada secarik kertas itulah dia merekam peristiwa yang disaksikannya. Terkadang dia berhenti dan bertanya. Juga penasaran. Dia terkadang ‘curiga’ saat melihat papan iklan.

BACA JUGA:  Peluncuran Novel 'Ibuku Perempuan Dari Pulau Rote, Bali Penuh Kenangan' Fanny Jonathans Poyk : Memuat Pengalaman Emosional Kisah Nyata dan Refleksi Budaya

“Kenapa seperti ini?,” ungkapnya saat berkomentar pada peluncuran buku “Koordinat Rasa” yang menggambarkan sosoknya yang selalu mencari –tahu.

Soal buku, tidak hanya menjadi tumpukan benda berisi tulisan di pojok-pojok ruang, tetapi juga bantal. Alas tidur.

“Kapan terbangun, saya buatkan catatan. Tiap sudut kamar tersimpan buku. Jika ada yang terlintas di benak, langsung dicatat,” dia mengaku.

Maman adalah sosok yang selalu gelisah dengan realitas. Jalan raya baginya bukan sekadar tempat kendaraan dan orang berlalu lalang, melainkan juga medium untuk memotret perilaku manusia. Jalan raya adalah cermin sebuah integritas dan norma insaniah bernama etika. Di jalan ada ego yang terkadang melalaikan etika.

Di jalan raya bagi Bang Maman, kita dapat becermin tentang etika. Kita berlalu lintas butuh etika. Ada yang naik motor sambil merokok. Dua kali dia mengalami imbas orang yang merokok sambil berkendara ini. Sekali waktu, terkena abu rokoknya.

“Mudah-mudahan dia terkena petunjuk dari Tuhan,” sambil menunggang sepeda sepeda motor Bang Maman masih meluangkan waktu berdoa agar si pengirim abu rokok itu memperoleh ‘hidayah’.

BACA JUGA:  Ram Prapanca Kulik "Ratmini" di HUT IPMI

Kedua, ini paling parah. Terkena puntung rokok. Dia mengejar orang tersebut.

“Maaf, puntung rokoknya terkena saya,” katanya tiba-tiba menjadi pemaaf padahal dia menguber pengendara itu dengan penuh amarah.