*Tikus atau Kecoak*
Pada periode awal persiapan, Eko melakukan pendekatan Tokoh dalam naskah melalui metode menulis cerita. Jadi setiap anak, telah memilih satu karakter hewan yang menjadi topik untuk mereka eksplorasi. Ada dua pilihan: Tikus atau Kecoak.
Faktanya, Kecoak tidak dipilih. “Sewaktu saya tanya, jawaban mereka, wajahnya jelek! Dan sulit ditiru oleh mereka,” beber Eko.
Di sisi lain, pilihan karakter Tikus membuat para orang tua saat melihat latihan mereka, ya, lucu-lucu saja. Karena pilihan metafor hewan tersebut mengundang perasaan geli dan lucu. Lagi pula, korupsi hanya sebagai “payung” untuk para pemain berjalan di relnya. Sebab percakapan dalam dialog naskah sebagian besar berangkat dari keseharian mereka.
Dalam melakukan proses, setiap pemain memiliki magnet yang berbeda-beda. Setiap potensi harus diberi ruang eksplorasi. Sehingga tidak ada upaya untuk menonjolkan satu anak. Tapi, dalam alur cerita, akan terbentuk dengan sendirinya.
Para pemain Lakon Sandiwara Tikus, sebagai Manusia: Ali, Tasnim, Daffina, Perry dan Devika. Sementara pada tokoh Tikus dimainkan Bening, Nina, Arkand, Nashkia dan Ghina.
Setelah Lakon Sandiwara Tikus, mereka akan dipersiapkan untuk lakon The Journey of Te Tuntel-Tuntel.
#Akuair-Ampenan, 27-06-2025












