Sandiwara Tikus: Literasi Antikorupsi Sejak Dini

Selain itu, Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat bahwa pada tahun 2023 terdapat 371 kasus korupsi dengan 1.695 tersangka. Data ini menunjukkan bahwa korupsi masih menjadi masalah yang signifikan di Indonesia dan membutuhkan upaya serius dari berbagai pihak untuk memberantasnya.

*Mengapa Anak-anak Begitu Penting?*

Bagi Eko, pendiri Teater Lho Indonesia, mereka adalah generasi yang akan melanjutkan perjalanan bangsa ini ke depannya. Tentu saja, materi antikorupsi di mata anak-anak tidak serumit yang ada di dalam kepala orang dewasa. Mereka lebih dekat dengan dunia bermain atau kegembiraan yang mengikat mereka dalam pertumbuhan yang sehat.

Dengan memperkenalkan mereka pada hewan-hewan yang mereka kenal. Lalu mengidentifikasi masing-masing hewan dengan karakternya. Misalnya Tikus, hewan pengerat yang kerap mengganggu kenyamanan di dalam rumah. Dengan jumlah yang tidak sedikit itu, mereka dapat digolongkan sebagai teroris. Hewan nocturno yang membuat kegaduhan di atap plapon. Mencuri makanan di dapur. Serta kebiasaan-kebiasaan buruk yang diidentifikasi dalam personifikasi manusia.

“Di Indonesia, tikus kerap disimbolkan sebagai seorang koruptor. Menjarah atau mengambil sesuatu yang bukan haknya untuk digunakan baik secara pribadi maupun kelompok. Namun, di Australia, hewan ini justru dianggap mewakili symbol teroris. Misalnya, kasus bom bunuh diri yang terjadi di Bali,” ujarnya.

BACA JUGA:  PERGINYA GURU BESAR ILMU BIARIN

Sandiwara Tikus, sebuah lakon yang bercerita tentang manusia yang kerap merasa terganggu dengan kehadiran tikus di rumahnya. Meski telah digunakan berbagai cara untuk memberantasnya, tikus-tikus itu tetap saja ada bahkan jumlah mereka semakin banyak.

Sampai akhirnya, mereka mencoba mengimport perangkap paling canggih. Dengan harapan, tikus-tikus itu akan jera dan tidak lagi mengganggu kenyamanan hidup mereka sebagai manusia. Namun, ketika salah satu tikus tertangkap, justru terjadi pledoi atau semacam pembelaan diri dari Tikus.

Berikut antara lain dialognya:

ALI
Sebelum kami beri sanksi atas perbuatan jahatmu, apa permintaan terakhirmu Tikus?

Nina (Tikus):
Baik. Saya tidak minta apa-apa, wahai manusia. Saya hanya ingin bertanya kepada kalian. Siapa sebenarnya yang lebih rakus dan membuat kegaduhan.

Bening (Tikus)
Kami hanya menelan separoh kue pudding. Membuat keributan hanya sebatas di atas plapon. Sementara kalian bangsa manusia, menelan pulau dan mengeruk isi tambang emas dan nikel. Mencuri uang rakyat untuk kesenangan pribadi. Membuat kegaduhan yang menyengsarakan rakyat.

BACA JUGA:  Mengukir Cita dan Cinta di Pantai Dato

Begitulah keputusan rapat malam itu. Mereka sepakat, akan menyisakan satu ekor tikus saja. Dengan sedikit sisa kemanusiaan yang mereka miliki itu, setidaknya si Tikus merubah semua perilaku yang melekat pada dirinya: suka mencuri yang bukan miliknya. Rakus. Jorok. Bau. Tidak tahu diri. Penebar teror.