_Kepada dingin tangan-tangan perempuan,
Ladang berawa ini telah dipertaruhkan
–sepetak onaja dengan semak gulma,
juga samar-samar bahaya malaria. Maka
tak ada jentik yang akan hidup lebih lama
di udik, sebab tunas-tunas telah ditanam dan nasib
telah diserahkan kepada kebaikan tanah becek:
takdir yang menyempurnakan kelahiran umbi gettek
–umbi keladi padat-berisi dan menguarkan
aroma musim panen di dusun jauh.
(Kebiasaan Umbi Keladi, hal. 55)_
Sementara tentang laporan kerusakan alam, Randa menyodorkan puisi “Cerita Lama Tentang Protein, hal. 49):
_Tual-tual kayu telah diberkati dengan jalinan
tali dan tradisi. Tual-tual kayu tumung yang terapung
di Sungai Goiso Oinan. Tual-tual kayu yang menunggu
dalam dingin, larut dalam bulan-bulan psang surut:
bulan-bulan payau menuju pembusukan kayu.
Tapi bagi para penghuni estuari, payau basah
adalah rumah dengan liang-liang air bersih,
sarang yang pernah dipasang para perempuan,
suaka paling sempurna bagi para moluska:
cacing-cacing kayu warna susu vanila.
Maka ketika musim sedang tenang,
para perempuan datang menyiangi batang-batang
dan membawa pulang cacing-cacing bertubuh bening
sebagai pengganti ikan, teman bersantap bersama anyang:
sambal segar dengan perasan jeruk nipis, penghalau rasa amis._
*Kedekatan dengan Anak*
Kumpulan puisi ini berisi 36 (tiga puluh enam) judul puisi, 80 (delapan puluh) halaman, berukuran 14 x 20 cm, dan cetak pertama Februari 2025.
Terdapat 30 (tiga puluh) glosarium (daftar kata atau istilah penting beserta definisinya yang disusun secara alfabetis). Rinciannya 18 atau 60% dari Mentawai, 5 (16,67%) berasal dari Jawa, 4 (13,33%) istilah Sasak dan 3 (10%) Hindu-Bali.
Sebagai besar lanskap di kumpulan puisi ini adalah Mentawai dan Ampenan. Terkait hal ini Tjak Parlan memberi informasi sebagai berikut:
Pertama, ada kesamaan baik yang di Ampenan atau Mentawai: ada lanskap pantai, selat, laut, sungai, juga kuliner (pangan). Kedua, sekitar 27 tahun tinggal di Lombok, di buku ini baru berani menyebut tempat secara terang-terangan, misalnya Ampenan. Sebelumnya hanya berupa latar atau setting sebuah peristiwa.
Hal khusus lainnya adalah persembahan puisi untuk sang permata hati: KB Samarkand. Ini tertera dalam puisi “Kota dengan Masa Lampau yang tak Pernah Benar-Benar Bisa Kita Jangkau” (hal.70-71), “Kembali ke Ayunan Itu” (hal. 72-73), dan “Sebelum Kelas Dimulai” (hal.74-75).
“Saya kira tidak terlalu banyak seorang ayah yang punya kesempatan seperti itu. Saya sering menemani anak saya. Maka ada beberapa puisi saya persembahkan untuk dia,” pungkas Tjak Lan, yang kumpulan puisi “Cinta Tak Pernah Fanatik”, masuk 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa ke-21.












