Sagu: Ingatan Kolektif Pulang ke Akar

Sagu
ki-ka: Maya Febrigina (pemandu), Tjak S. Parlan (penulis), Randa Anggarista (pembedah)

Tetapi, tambah Tjak Lan, ada banyak hal yang memang tidak perlu dirubah dan itu tidak mengganggu negara sebesar Indonesia ini. Namun demikian, masyarakat sadar betul dengan adanya perubahan tersebut.

Tjak mengatakan hal itu sehubungan dalam hal proses menulis (prosa dan puisi) yang mempunyai ikatan khusus dengan sekitarnya. Baginya, bukan sok seksi dengan isu lingkungan, misalnya yang di Mentawai. Memang kenyataan begitu. Jadi politik pangan itu sangat benar adanya. Bagaimana kemudian dengan masyarakat Mentawai yang biasanya makan sagu jadi beralih ke beras (nasi).

Selaras dengan hal tersebut, sebagai kurator Kiki Sulistyo menyatakan bahwa puisi-puisi Tjak pada dasarnya mengartikulasikan soalan ekonomi, hajat hidup dasar. Kata “sagu” adalah metafor untuk itu.

“Judul itu mengandung ironi, sebab umumnya gerak berlangsung dari hulu ke hilir, jadi kalau “sagu masih jauh di hulu” ada arus-balik di sana, balik ke hulu, balik ke soalan hajat hidup dasar,” ujar Kiki, penulis buku “Tuhan Padi”, yang terpilih sebagai Buku Sastra Pilihan Tempo 2021 dan Penghargaan Sastra Kemendikbud, Riset dan Teknologi 2023.

BACA JUGA:  Aktor sebagai Representatif Teater Lho Indonesia

*Sisi Etnografi*

Sebagai pembedah buku “Sagu Masih Jauh di Hulu”, Randa Anggarista antara lain melihatnya dari sisi Etnografi, berdasarkan dua pendekatan.

Pertama, etnografi sebagai usaha menguraikan atau menggambarkan kebudayaan atau aspek-aspek kebudayaan (Moleong, 1990:3).

Kedua, kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1992).

Dengan judul materi “Bertamasya ke Sasak dan Mentawai melalui Sagu Masih Jauh di Hulu, Rangga lantas menunjukkan beberapa pusi yang dimaksud:

1.Mata pencaharian
-Apa yang Perlu Dikenang dari Tanjung Karang? (hal. 20)
-Cerita Lama Tentang Protein (hal. 49)

2.Lokalitas pada Sistem Kepercayaan
-Yang Bertahan di Pantai Pura Segara, Ampenan (hal. 22)
-Wisata Pantai Loang Baloq (hal. 64)

3.Lokalitas pada Sistem Teknologi
-Para Pemetik Kangkung (hal. 32)
-Tiba di Muntei (hal. 38)

4.Lokalitas pada Sistem Bahasa
-Para Pemetik Kangkung (hal. 32)
-Sungai yang Menjangkau Jarak Puluhan Tahun ke Tanah Rantau (hal. 34)
-Uma Kecil di Goiso Oinan (hal. 47)

BACA JUGA:  NGOPI DULU BARU MIKIR

5.Lokalitas pada Lokasi
-Pagi Mekar di Ugai (hal. 45)
-Wisata Pantai Loang Baloq (hal. 64)

6.Lokalitas pada Sistem Kemasyarakatan
-Pagi Mekar di Ugai (hal. 45)

Pada lapis metafisis (di tinjau dari Strata Norma Roman Ingarden), Randa menunjukkan bagaimana penyair berkotemplasi: