Memukau! Pameran Tunggal 1000 Karya Kaligrafi Prof. Azis Ahmad

NusantaraInsight, Makassar – Guru Besar Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof. Dr. H. Abd. Aziz Ahmad, M.Pd kembali menghadirkan karya-karyanya di awal 2026.

Pameran tunggal yang diadakan sebelum Ramadhan digelar di Hall AP Pettarani, Gedung Amanagappa, UNM Gunung Sari Baru. Setelah menorehkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) September tahun lalu. Tercatat 1077 karya kaligrafi dalam satu pameran.

Berlangsung 13-15 Februari 2026 – dari Jumat hingga Minggu – perhelatan ini ditutup dengan lomba kaligrafi untuk umum dan mahasiswa se-Kota Makassar. Mengusung tema “Melestarikan Budaya Inklusi melalui Pameran Kaligrafi Islam, Aksara Latin, dan Lontara”, pameran ini menampilkan keragaman tulisan sebagai kekayaan budaya bangsa.

Pembukaan dihadiri perwakilan Dinas Kebudayaan Sulawesi Selatan, seniman, mahasiswa, dan komunitas pencinta seni kaligrafi.

Secara resmi Pameran Tunggal 1000 karya lukis Kaligrafi dibuka oleh Wakil Rektor III UNM, sekaligus Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS) Dr. Arifin Manggau, S.Pd., M.Pd. dalam sambutannya sangat mengapresiasi ketekunan Prof. Aziz. “Komitmen satu karya setiap hari menunjukkan konsistensi luar biasa. Warna hitam-putih pada banyak karya saya tafsirkan sebagai gambaran siklus perjalanan kehidupan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Ada Apa "Sang Karaeng di IGD" Bikin Heboh

Pameran terbuka untuk umum. Prof. Aziz menjelaskan bahwa kaligrafi bukan hanya tulisan Arab, melainkan juga mencakup abjad Latin dan aksara Lontara Bugis-Makassar sebagai bagian budaya lokal. Perhelatan ini mendapatkan dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Program Dana Indonesiana dan LPDP.

Dalam buku katalognya, ia mengungkapkan konsep berkarya yang berpusat pada “Kaligrafi sebagai media dakwah”. “Kegiatan melukis kaligrafi saya niatkan untuk menjalankan sabda Rasulullah SAW: Ballighuu ‘anniiy walaw aayah (sampaikanlah dariku walau satu ayat),” tulisnya.

Ia juga mengutip buku Seni Lukis Kaligrafi Islam karya Eddy Fauzi Effendi (2019:76) yang menyatakan kaligrafi sebagai elemen visual ekspresi dan pernyataan sikap ikonoplastis pada tauhid. “Hakikat keindahan dalam Islam adalah upaya pencerahan. Karya saya lebih tepat disebut seni lukis kaligrafi Islami karena membawa pesan spiritualitas,” tambahnya.

Hingga akhir pameran, sejak awal Januari 2026 ia telah menghasilkan lebih dari 50 karya baru – fakta nyata dedikasi dalam menggabungkan seni, budaya, dan nilai spiritual.

Pameran ini membuktikan kaligrafi bukan hanya seni estetis, melainkan wadah merajut inklusi dan dakwah mendidik. Diharapkan dapat menginspirasi masyarakat menghargai keragaman aksara, khususnya Lontara sebagai identitas Sulawesi Selatan. Semoga konsep ini terus berkembang dan mendorong kolaborasi untuk memperkenalkan seni kaligrafi Indonesia ke kancah yang lebih luas.