Memaknai Asmara Lumrah La Ruhe

Namun kontennya (tema, pokok pikiran, gagasan utama, atau apapun sebutannya) tetaplah narasi mengenai perasaan hati ‘hasrat mencinta dan dicintai’ (dominan), namun seringkali dibalut citra intelektual dan sentilan-sentilan moril religius dan budaya lokal. Menunjukkan La Ruhe, bukanlah pecinta picisan, yang mengumbar gombal.

Dari sejumlah judul surat yang terhimpun, paling tidak dapat dibaca 3 pokok anotomi hikmah ‘sejarah asmarah La Ruhe’ sepanjang periode penulisan surat-surat tersebut: pertama, ‘eksistensi diri sang pecinta’, yang dengan ‘pas’ ditempatkan di awal kumpulan, dalam surat berjudul ‘Rintihan Relasi’: … bahwa saya adalah cinta kebenaran, jika ada yang rela menerima diriku apa adanya, maka silahkan bebas bergaul,.. tapi pengikatnya adalah tanggungjawab.

La Ruhe ‘memegang perinsip cinta yang membebaskan’, tidak ada belenggu bagi ‘kekasih’, dan tanggungjawab bukanlah kerangkeng, tetapi ikatan etis dalam ‘saling mencintai’. Mungkin ini hikmah pertama, dalam perkenalan kita dengan pribadi sang pecinta dalam ‘mempersonifikasi La Ruhe’.

Kedua, ‘eksistensi cinta’, dalam surat berjudul Dialog Hati. Dengan mengutip Sutan Takdir Alisyahbana, La Ruhe menulis: “Satu bumi, satu ummat manusia, satu tanggungjawab dan satu masa depan”.

BACA JUGA:  DIAM KU ADALAH DAMAI

Seolah sang penulis surat, tengah berkhotbah tentang ‘cinta yang satu’ kepada calon kekasih, yang mengeja namanya dalam satu rangkaian huruf yang bertalian jadi satu. Sebuah hasrat terselubung, dan paling dalam dari ungkapan cinta yang paling tidak dimengerti perempuan biasa. … Dan La Ruhe sendiri buru-buru menilai ‘khotbahnya’: “Nah, kuyakinkan sekarang bahwa adik pasti bosan, bingung dan sebal menyimak alur pikiran saya ini”.

Ini hikmah lain yang dapat diperoleh dari La Ruhe, yang memandang cinta “Satu kesatuan Utuh dan Tak Terbagi”. Yang tidak mudah dicerna bagi wanita-wanita muda, yang masih ranum dalam ‘penghayatan hidup’.

Dan ketiga, mengenai ‘takdir cinta yang misterius’, dalam surat berjudul ‘Kesendirian Terselubung’, dituliskan: “usaha dan upaya memang kewajiban insan, dimana jodoh terukur manis di genggaman Ilahi Robbi.”

Kesadaran religius sang penulis, mengantarkannya untuk ‘menyerah’ pada determinan ‘jodoh ada ditangan Tuhan’. Ikhtiar mencari pasangan hidup, mungkin patut dilakukan bagi ‘yang memerlukan’.

Namun seringkalai dalam banyak pengalaman, mengkorfirmasi hal tersebut tidak selalu semulus yang dicita-citakan. Dan mungkin ketika seluruh urusan itu, menemui titik buntu dijalan ikhtiar, sang pecinta wajib meluruhkan segalah urusan jodoh ke Tangan Sang Takdir.