Memaknai Asmara Lumrah La Ruhe

Buku “Balutan Asmara La Ruhe” walaupun merupakan karya paling mutakhir. Namun jejak penulisan buku ini, telah merentang hampir 3 dekade, sejak ‘surat-surat asmara’ ini pertama dipenakan La Ruhe.

Secara sederhana, kita boleh menebak motiv utama setiap ‘nafas’ surat itu dituliskan: penulisnya bermaksud menyampaiakan ‘isi hati’ kepada lawan jenis ‘yang memikat hati’. Dari sejumlah ‘surat-surat’ yang terhimpun, pun bisalah mungkin kita mengira-ngira: bahwa ‘ranting-ranting’ hati penulis begitu lembut sehingga muda terbawah condong oleh arah mata angin, yang berhembus meskipun hanya sepoi-sepoi melintas. Hati penlis terlalu lembut sehingga sesitif ‘jatu hati’.

Lazimnya sebuah ‘surat’, selalu ada subyek yang dituju. Surat-surat asmara La Ruhe, juga menunjuk kepada sejumlah nama ‘yang tersamar’. Jumlah itu, menujukkan betapa ‘perkasanya’ sang penulis dalam hasrat untuk ‘mencintai’.

Adalah takdir yang lumrah bagi seorang (bahkan mungkin setiap) lelaki yang dikaruniai keistimewaan dalam ‘kelembutan hati’ untuk mencintai. Dalam hadisnya, Rasullulah SAW menyebut: “Hal yang paling saya senangi adalah wanita dan parfum, dan kesenanganku dalam sholat”. Dan tentu, bahwa Muhammad SAW, adalah manusia yang tiada banding dalam Kelembutan Hati. Dan beliaulah yang paling ‘perkasa’ dalam mencintai wanita.

BACA JUGA:  Catatan Cerpen ‘Ibu Gaib’ M.Amir Jaya Ilmu Ayah, Huruf “H” & “Dia Fana” yang Penasaran

Maka, La Ruhe ‘tidak bermasalah’ dalam ‘surat-surat asmaranya’, meskipun ada pengakuan ‘malu-malu’ penulisnya bahwa buku ini sebagai “ungkapan menelanjangi diri”.

Mungkin pada konteks pengakuan penulis inilah, menjadi pintu masuk untuk melihat keseluruhan ‘surat-surat asmara’, apakah buku dengan segenap isinya ini, adalah sebuah karya ‘bernilai sastra’ atau atau sekadar sebuah buku yang ‘bernilai sejarah’ mengenai kenangan ‘manis dan pahit’ dari sebuah orde asmara di masa silam seorang individu, saja?

Jawabnya, akan banyak perspepektif yang terbuka. Catatan sepinitas pandang ini juga, tidak bermaksud memberikan ‘kepastian kategoris’. Yang penting terasa, adalah mengulik hikmah asmara cinta La Ruhe.

Makna menelanjangi diri, berarti membuka ‘aurat’ yang dapat disaksikan selaksa padangan. Kalau aurat adalah aib, mengapa harus menelanjangi diri.

Disinilah peran brillian sorang sastrawan, ketika sebuah urusan pribadi yang sebenarnya harus ditutup rapat (karena tersangkut moral dan etika), namun ditangan seniman kata-kata, topik ‘aib’ itu dapat disulap menjadi bahan bacaan yang bergizi bagi jiwa pembaca.

Inilah yang sekilas pandang yang dapat kita temukan dalam “Balutan Asmara La Ruhe”. Untuk menyamarkan ‘bukti sejarah’ menjadi ‘bukti sastra’, penulisnya memberikan topik setiap surat dan menetapkan menjadi judul, sebagai penggati struktur tulisan surat dalam bagian ‘kepala surat’. Sehingga, sepintas pandang nampak seperti puisi panjang atau cerita pendek, bahkan sebuah esai.