Catatan Selintas Pandang Buku Balutan Asmara Laruhe, Karya Andi Ruhban
Oleh: Syafruddin Muhtamar, Peminat Sastra, Dosen UMI
NusantaraInsight, Makassar — Cinta secara universal telah menjadi motif pendorong utama manusia bertindak. Sebentuk ‘potensi’ misterius, yang khas milik manusia. Tidak memandang profesi atau predikasi sosial, motif cinta berdenyut di setiap helai jiwa.
Bagi jiwa sastrawan atau seniman umumnya, cinta sedemikan purba mendekam dalam nadi karya-karya mereka. Menjelma dalam syair-syair puitik, larik sajak-sajak, juga dalam cerita panjang maupun sederhana, dalam lakon drama panggung, dalam rupa dan tarikan warna diatas kanvas, dalam nyayian. Bahkan, secara tak terduga, juga seringkali mencuat ‘vulgar’ dalam catatan surat-menyurat.
Aksara, simbol atau lisan-suara, di semua media tulis, diatas secarik kertas atau dalam lembar daun lontar dan/atau filing elektronik, hanyalah cara cinta hadir sebagai motiv. Sebagai sebuah ‘pernyataan rasa’ atau ‘pernyataan intelektual’. Entah, apakah motiv itu dalam tendensi positif atau negatif, sangat bergantung pada spektrum ‘ideologis’ atau ‘niat’ sang sastrawan, sang seniman.
Cinta dalam hakikat, adalah makna yang tidak terjamah, bahkan melewati demarkasi definisi. Makna cinta paling ‘luar’ yang dapat dikenali, ‘hanya’ ketika hasrat telah terpikat ‘lawan jenis’. Dalam apa yang dipahami sebagi ‘stimualan-stimulan’ asmara.
Dan asmara dalam tingkatnya yang paling terjamah adalah serpihan-serpihan nyata dari hasrat birahi. Meski demikian, birahi mengandung ‘kemuliaan tak nampak’, karena menjadi penopang utama ‘keberlanjutan sejarah’. Mendorong pernikahan suci dan kelahiran-kelahiran generasi manusia sejauh sejarah kehidupan.
Namun bagaimana ‘nasib cinta’ dalam buku “Balutan Asmara La Ruhe”?
Sekitar empat puluhan ‘surat pribadi’ yang direkonstruksi ulang, dan dihimpun (Rahman Rumaday) menjadi sebuah buku terbit. Dilabel dengan judul “Balutan Asmara La Ruhe” pada sampul.
Penulisnya adalah Andi Rubhan, sosok yang produktif menerbitkan karya-karya puisi dan buku akademik. Dikenal juga sebagai pegiat gerakan anti korupsi. Berlatar pendidikan tinggi bidang kesehatan lingkungan dengan ragam kegiatan sosial ke masyarakat berkenaan literasi kesehatan dan budaya anti korupsi di lingkungan pendidikan.
Pengalaman itu, juga merefleksikan kapabilitas penulis dalam melahirkan karya-karya tulis. Pengalaman yang panjang dan dukungan suasana yang bernuansa intelektual, dapat dipastikan menyumbang ‘nilai’ pada setiap jejak karya sang penulis.













