Saya lalu memanggil salah seorang siswa yang sedari tadi memegang kertas berisi naskah puisi “Panggil Aku Daeng”. Saya memberi semangat kepadanya.
Saya bilang, ini kesempatan langka membaca puisi diiringi kesok-kesok oleh Pasinrilik, Daeng Nassa, dan tiupan suling Daeng Pata.
Anak itu, Muhammad Nur Akmal, siswa kelas 7. Suaranya mantap membaca larik-larik puisi yang saya buat tahun 2017 tersebut. Puisi ini memang berbicara tentang pentingnya identitas, khususnya sebagai orang Makassar.
Bahwa mesti bangga punya sejarah yang panjang, punya bahasa dan aksara, kaya dengan karya sastra, punya musik, tarian, dan ragam bentuk kesenian lainnya.
“Sebelum ke sekolah ini, saya mencari tahu informasi tentang SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Desa Kale Ko’mara, juga Bendungan Pammukulu,” terang saya.
Begitulah cara saya meriset, bila akan mendatangi suatu tempat, menemui seseorang atau komunitas. Dengan begitu, membantu saya masuk dalam obrolan, biar nyambung, dan cepat membangun keakraban.
Terlebih melalui medium seni, yang bisa digunakan sebagai bentuk ekspresi dan kreativitas, sebagai sarana komunikasi dan diplomasi, juga untuk tujuan edukasi dan literasi.
Saya berterima kasih pada Daeng Nassa dan Daeng Pata’ yang sudah mengambil peran, dan menjadi bagian dari ekosistem literasi di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara.
Lewat lantunan kesok-kesok dan kacaping, pesan-pesan leluhur disampaikan bahwa betapa pentingnya pappilajarang. (*)
Laporan: Rusdin Tompo (Penulis, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)












