Anak-anak menggeleng. Tak ada satupun dari mereka yang mengacungkan tangan.
Daeng Nassa lantas menyampaikan bahwa alat musik gesek, yang bentuknya tampak seperti jantung atau daun keladi itu bernama kesok-kesok. Gesek dalam bahasa Makassar, artinya kesok.
Dua dawai dari alat musik itu digesek, sambil bertutur, dengan bahasa yang berirama.
Sinrilik, lanjut Daeng Nassa, merupakan seni tradisi lisan yang dibawakan secara naratif, berisi sejarah atau legenda, sarat akan filosofi, dan pesan moral.
“Dahulu, selain untuk hiburan, sinrilik juga digunakan sebagai sarana menyampaikan pengumuman,” terang Daeng Nassa.
Ketika ada di antara yang hadir mencoba menyanyikan lagu pop dengan menggunakan kesok-kesok, spontan disampaikan bahwa untuk lagu seperti itu, bisa diiringi menggunakan kacaping.
Daeng Nassa lalu mengambil kacaping, membawakan lagu Anging Mammirik. Giliran Daeng Pata yang meniup seruling.
Harmonisasi permainan keduanya menambah kesyahduan lagu ciptaan Bora Daeng Ngirate tersebut.
Siang itu, 50-an siswa yang sekolahnya berada di Desa Kale Ko’mara tersebut, tak hanya mendapat asupan informasi seputar alat musik tradisional, tetapi juga semacam coaching clinic. Mereka diperlihatkan, bagaimana memainkan kacaping dan kesok-kesok.
Muhammad Revan, siswa kelas 9, memberanikan diri tampil ke depan. Siswa yang hobi bermain sepak bola, dan bercita-cita jadi anggota Kopassus itu, tak canggung saat menggesek kesok-kesok.
Dua guru, masing-masing Pak Rahman dan Pak Irfayandi, juga melakukan hal yang sama, mencoba memainkan kesok-kesok dan kacaping.
Diakui oleh Daeng Nassa, butuh proses untuk bisa sampai mahir. Daeng Pata’ pun mengiyakan bahwa kalau mau lebih terampil lagi, perlu latihan yang kontinu.
Kepala UPT SPF SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Erma Mapparenta, S.Pd, M.Pd, senang melihat siswa-siswi dan guru-gurunya begitu antusias pada seni tradisi.
Kepala sekolah yang sebelumnya mengajar di SMP Negeri 1 Mangarabombang itu, tampak mendokumentasikan penampilan mereka melalui smartphone-nya.
“Harus berani dan percaya diri kalau ingin maju,” kata Bu Erma memberi semangat.
Saya kemudian meminta tolong Pak Rahman, guru Bahasa Inggris, mengakses YouTube melalui smartboard TV atau interactive flat panel, yang ada di situ.
Melalui alat yang menggabungkan fungsi TV pintar, papan tulis digital, dan komputer Android/Windows tersebut, puisi karya saya “Panggil Aku Daeng”, muncul dalam sejumlah kanal.
“Bila kita punya karya, maka ada jejak digital yang kita tinggalkan. Mungkin dari situ kita bisa menginspirari orang atau menebar kebaikan,” begitu pesan yang saya sampaikan.












