Jangan Marah, Mery !

Keesokan harinya Mery bangun masih dengan dengan wajah sendu tak bersemangat, tatapan matanya kosong, pandangan matanya kusam, murung penuh kesedihan, mata yang selama ini indah berbinar kini hanya tampak mata yang berkaca kaca, dengan langkah gontai ia pun berkemas kemas untuk mengikuti acara pelepasan di kantornya,

“Mery anakku, putri kesayanganku, berangkatlah Nak, dan ingat pesan Ibumu Nak. Bersihkan hatimu dari pada dendam, tenangkan jiwamu dari pada resah yang panjang, yakinkan dirimu ini adalah takdirmu yang telah Allah gariskan untukmu, berdoalah jika ini ujian mu maka mohonlah kepada Allah kekuatan dan kemudahan untuk menjalaninya, dan jika ini adalah nikmat untukmu dan ada hikmah yang baik dibaliknya maka berdoalah engkau menjadi hamba yang selalu bersyukur,” Bu Yolanda terus memeluk dan menasehati Putri kesayangannya.

Dua hari sudah berlalu Mery belum juga bisa menerima kenyataan, Bu Yolanda tak putus asa membujuk putrinya.

Keesokan harinya bertepatan dengan hari lahir Yolanda putrinya, suasana pagi begitu indah dengan sinar matahari yang hangat, Bu Yolanda membangunkan putrinya dengan lembut, “Mery anak Ibu yang cantik ayo bangun Nak, kita siap-siap ke tempat tugasmu yang baru, Ibu yakin di sana telah menanti kawan-kawanmu yang akan menyambut-mu dengan riang gembira. Engkau akan menjadi teman yang ditunggu-tunggu, kamu akan menjadi pelengkap kebahagian mereka, dan kamu akan membawa perubahan yang terbaik di tempatmu yang baru.”

BACA JUGA:  Arsiparis Cinta, Akhirnya Terbit Juga

Mery pun bangun dan bangkit dari tempat tidurnya dan segera berkemas-kemas menuju tempat yang baru. Bu Yolanda dengan penuh semangat dan senyum keibuan yang mengantar putri kesayangannya ke tempat tugas yang baru dengan harapan di sana akan ada sinar kesuksesan, dan menjadi karyawan yang terbaik, loyal, integritas dan bertanggung jawab.

Bu Yolanda senang dan bahagia sesuai harapannya, ditempat yang baru ternyata Mery disambut hangat oleh segenap pimpinan dan seluruh karyawan di perusahaan itu mereka merasakan suasana kekeluargaan yang penuh kehangatan.

Mery dan Ibunya disambut dengan tari khas daerah penyambut tamu. Bu Yolanda senang bahagia bercampur haru seraya berdoa dan bersyukur putrinya diterima dengan baik, Mery pun tersenyum bahagia dengan sambutan hangat dari pimpinan dan segenap karyawan di perusahaan itu, dan paling istimewa dihari pertama itu pada acara penerimaan matanya tertuju pada sepasang bola mata yang tak henti hentinya mencuri pandang kepadanya seakan ingin mengungkapkan satu kata yang tak sanggup untuk diucapkan.