“Mery sayang……. kau Putriku tercinta kau adalah belahan jiwaku, Ibu tahu kau tak ingin meninggalkan Ibumu dan akupun Ibumu, tak ingin kau tinggalkan, tak ada seorangpun Ibu di dunia ini yang ingin ditinggal sama putri belahan jiwanya. Tapi sayang, Kamu itu bekerja pada perusahaan, kamu diatur oleh perusahaan sebelum kamu bekerja Nak, kamu kan menandatangani perjanjian kerja akan mematuhi semua aturan dan kebijakan perusahaan. Masih ingat kan Nak ? tanya bu Yolonda pada putrinya.
“Sayang, ketika Ayahmu masih hidup, ayahmu memintamu untuk melanjutkan perusahaanya, tapi kamu tak ingin mengikuti jejak ayahmu yang bekerja mandiri, kamu memilih untuk bekerja pada perusahaan orang lain, ayahmu pun sudah mengingatkan bekerja pada perusahaan orang lain maka salah satunya kita harus bersedia mengikuti perintah untuk dipindahkan ke tempat tugas yang lain. Kamu ingat kan sayang..? Bu Yolanda terus berusaha untuk mengingatkan nasehat ayahnya.
“Putriku yang cantik,” bujuk Bu Yolanda, “ayo Nak kita masuk ke rumah, kita istirahat, kita berdoa Pimpinan pasti telah mempertimbangkan kenapa Mery dipindahkan.
“Tidak Ibu !,” suara Mery sangat lantang mengagetkan Ibunya.
“Ibu ! ini karena perbuatan seseorang, aku harus membalasnya Ibu, akan aku cari siapa penyebabnya Ibu , aku tidak terima, tidak terima Ibu,” Mery terus berteriak.
“Mery anakku,“ Ibu tidak pernah mengajarimu berkata kasar, bahkan se-kasar ini Nak, Ibumu tidak pernah mendidik mu untuk memfitnah orang lain, ayo sayang istigfar,” bu Yolanda terus memeluk putri kesayangannya.
“Mery anakku, sebagai karyawan apapun keputusan pimpinan, karyawan harus terima dengan Ikhlas, jika tidak ingin menerima keputusan pimpinan jalan terakhir adalah Resign atau mengundurkan diri Nak ! Pimpinan sudah mempertimbangkan sebelum menetapkan keputusan,” Bu Yolanda terus menasehati putrinya.
“Mery anakku, ayo nak Istigfar, taubat dan bangkit ketika kita tergelincir tugas kita langsung istigfar, taubat -bangkit, dan lanjutkan perjalanan, dan jangan buka pintu sehingga syaitan membuat drama dalam hati kita,” itu kata- kata Pak Ustadz Nak, Bu Yolanda terus mengingatkan putrinya.
“Ibu, aku kecewa aku tidak terima ini, ini penghinaan Ibu !,” Mery terus berteriak tanpa menghiraukan Ibunya yang terus mendekapnya.
Bu Yolanda tahu tak mudah menaklukkan putrinya sendiri, Mery memang anak keras kepala susah untuk menerima sesuatu perubahan jika itu sudah keyakinannya, namun demikian Bu Yolanda tak putus asa.
Malam pun semakin larut Mery akhirnya tertidur lemas dipangkuan Ibunya, ia tidak bisa menerima keputusan pimpinan, dia tak pernah berharap dan berfikir akan dipindahkan ke tempat lain, baginya tempatnya sekarang adalah dunianya.












