Imaji Air Api: Simbol Perlawanan dan Tugas Kenabian

Manusia yang Hilang

Iin Farliani sebagai pembedah buku puisi Imaji Air Api mengatakan bahwa kata imaji mempunyai sifat keserentakan. Sifat keserentakan adalah salah satu sifat puisi. Membaca puisi yang baik membuat kita bisa mengalami pengalaman keserentakan. Segala imaji yang bertabur dihamparkan dalam satu tebasan. Satu kata bisa memunculkan banyak imaji. Sebagaimana sifat puisi yang bermain di wilayah ambigu.

“Mari kita telaah puisi berjudul Imaji,” ujar Iin.

Imaji

imaji kerap membelit
di lingkar hidup
penuh gejolak

adakah kau tahu
ketika ia memberontak
melepas semua kesemuan

mata hatinya kelam
membungkus secawan noktah
hingga ajal menjelang

Kemaraya, 1 Mei 2019: 12.25

Bait pertama puisi Imaji, memunculkan pertanyaan apakah puisi hanya hadir saat hidup penuh gejolak? Lalu dengan kata membelit apakah ia hadir sebagai sesuatu yang positif atau negatif? Beberapa kata yang dekat dengan membelit: mengikat, melibatkan. Di sini larik yang terbaca kemudian lebih dekat pada sesuatu yang melawan. Sebab di bait selanjutnya ada kata memberontak, lalu di bait terakhir mengesankan sesuatu yang membelit itu sebagai hal yang kelam. Kelam yang seakan berlangsung abadi dan hanya bisa diputus bila ajal menjelang. Dari keterhubungan makna antar bait, di sini tampaknya puisi memang dipandang hanya akan hadir membelit, bila sedang berada dalam situasi hidup yang penuh gejolak. Karena itulah puisi tercipta.

BACA JUGA:  Pameran Tandra Paseng, Hadirkan Batik Estetik dengan Makna Simbolik

“Dalam pembacaan berikutnya, saya tidak menemukan adanya subjek yang tunggal yang bisa saling terhubung di puisi yang satu dengan yang lain. Dalam pembacaan yang berulang lagi, saya menemukan bahwa subjek yang bisa kita bayangkan sebagai “manusia”, ternyata telah hilang dalam kebanyakan puisi-puisi di buku ini.” ucap Iin, alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mataram.

Yang lebih cenderung muncul, tambah Iin, adalah kehadiran benda-benda yang dilekatkan dengan sifat manusia. Benda-benda yang menyandang sifat manusia ini terutama kita temukan kehadirannya pada puisi-puisi paruh awal di buku ini, di antaranya pada puisi Harapan Para Jelata (Hal.17) terdapat larik gelas kosong menyendiri.

Puisi berjudul Perahu Koyak (Hal.18), bait pembukanya langsung menghidupkan sebuah benda perahu koyak menepi/meninggalkan gegap gempita… lalu perahu itu dikatakan nyalinya perlahan karam/berakhir sudah daya upaya.

Benda yang me-manusia juga bisa dibaca pada puisi Napas Kehidupan (Hal.19) : sepasang sepatu teronggok/di ujung hati paling sepi… ia tetap menunggu/ rinai hujan menjadi kawan/. Selanjutnya sebagai “benda-benda yang me-manusia”, dalam bentuknya yang paling tajam bisa kita baca di puisi Daun Kering (Hal.24).