Kata-katanya serasa lebah yang mengerumuni tubuh Rini. Terasa pedih perih tembus menusuk hatinya, namun Rini tetap tersenyum walau hatinya rapuh dia tetap harus manis dan tegar dimata suaminya.
“Masih ada Yannkk,” jawab Rini meskipun ia tahu jangan kan untuk beli hadiah ulang tahun bahkan untuk makan-pun sudah secukupnya saja.
Setelah sarapan Aldi bergegas siap-siap berangkat, Rini kemudian memeluk suaminya sambil berbisik lirih, “Yannkkk……….Aku istrimu aku tetap mencintaimu seperti dulu, tidak ada yang berubah pada diriku Yannkkk….. aku menerimamu apa adanya,” sambil menangis Rini terus memeluk suaminya seakan tak ingin melepaskan suaminya pergi.”
“Rini maaf Aku harus berangkat nanti saja kita bicara, Aku Sibuk Rin…… banyak yang harus Aku selesaikan,” tukas Aldi berusaha melepaskan pelukan Rini.
Rini melepas pelukannya pada suaminya dan hanya memandang dengan tatapan kosong melihat suaminya berangkat tak ada lagi kecupan mesra tak ada lagi salam kehangatan.
Aldi hanya sibuk dengan Ponselnya. Rini mengikuti kepergian suaminya sampai suaminya hilang dari pandangan dengan air mata, dengan pandangan mata sayu, Rini kembali duduk di ruang tamu hanya memandang lesu foto pernikahan mereka yang indah, cantik yang dikemas dengan bingkai keemasan.
Rini tak ingin berfikir negatif, ia tetap yakin suaminya baik baik saja, suaminya hanya banyak beban tugas dan semuanya untuk kebaikan mereka untuk masa depan mereka, masa depan anaknya Fatiah. S
ejenak Rini mulai berfikir apa yang harus aku lakukan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Rini bergegas berharap suaminya kembali yang mengetuk pintu, Rina membuka pintu namun yang terlihat sosok Ayah dan Ibunya, dengan senyum yang tetap manis Rini mempersilahkan kedua orangtuanya masuk.
Rini berusaha menutupi jiwanya yang telah rapuh.
“Rini ………mana suamimu,” tanya Ayahnya.
“Barusan berangkat kerja ayah,” jawab Rini lembut.
“ohhh………. ya, Rini apakah kau sudah tau keadaan suamimu saat ini,” cecar ayahnya lagi.
“Iya ayah, Aldi baik baik saja “ jawab Rini.
“Rini ………….kamu bilang suamimu baik baik saja, tidak..suamimu tidak baik baik saja, suamimu tidak lagi bekerja ia ikut dengan temannya, sekarang juga tinggalkan suamimu kembali ke rumah Ayah dan Ibumu, kemasi barang barangmu tinggalkan rumah ini, rumah orang tuamu selalu terbuka untukmu dan Fatiah,” suara ayahnya lantang dan tegas membuat Rini gemetar.
Rina kaget, serta merta ia memeluk Ibunya, ibunya yang selama ini menyayanginya, menjadi pelindungnya kini hanya diam dan memeluk erat putrinya, mereka larut dalam air mata kesedihan, Rini tak menyangka gelombang dahsyat akan menghempaskan keluarganya, menghancurkan mahligai rumah tangga yang telah mereka bangun dengan Cinta dan Kasih sayang.












