DIAM KU ADALAH DAMAI

Rini tak pernah menyangka kemelut panjang akan menimpa dan hinggap di rumah tangganya yang telah ia bangun bersama suaminya Aldi.

Aldi yang selama ini dikenalnya sangat baik, penuh kasih sayang, penuh cinta dan kemesraan, kini mulai berubah, jabatannya sebagai kepala cabang dengan uang dan fasilitas yang cukup memadai membuat Aldi lengah,

Berawal dari kedatangan sahabat lamanya ke rumahnya, sahabatnya menawarkan kerjasama dengan janji janjinya yang menggiurkan.

Setelah percakapan mereka, dan temannya pulang, Rini mendekati suaminya Rini mencoba mengingatkan suaminya sambil memeluk, Rini berbisik lembut : “Yannkk ……. coba pikirkan lagi tawaran temannya, fokus aja Yannk…. jalani tugasnya sekarang, Insya Allah akan berkah.”

“Rini, ini peluang saya untuk bekerja sama dengan temanku, ia teman sekolahku dulu, kami akan jalan sama-sama,” balas Aldi dengan suara meninggi

Suara Aldi mengagetkan Rini, tak seperti biasanya, suara Aldi meninggi, ia selalu lembut dan selalu menghangatkan jiwanya.

Hari-hari berlalu, bulan dan tahun pun berganti berlalu begitu cepat, Aldi mulai berubah, Aldi tak lagi ingin membawa bekal untuk makan siang, makan malam pun tak lagi seperti dulu, bahkan hari ulang tahun Rini tak lagi diingat, namun Rini tetap sabar.

BACA JUGA:  Palestina, Aku Datang!

Rini hanya diam Ia tak ingin ribut dengan suaminya, Ia masih percaya bahwa kesibukan suaminya untuk masa depan mereka, masa depan anaknya.

Setelah menunggu semalaman akhirnya pagi itu Aldi pulang, dengan suara lembut Rini bertanya, “ Yank….. kenapa ndk pulang Yannkk……semalaman, aku menunggumu, Aku kuatir Yannkkk.”

Aldi hanya menjawab seadanya, “aku sibuk, ini akhir tahun, kamu urus aja tugasmu mengurus rumah dan Fatiah tak perlu mengurus urusan kantor.”

Kata-kata suaminya bagaikan guntur di siang hari, namun Rini memilih diam, suaminya baru saja pulang ia akan memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya.

Setelah menyiapkan sarapan Rini memanggil suaminya “ Yankk……… sarapan sudah Aku siapkan Yannk, ayo kita sarapan sama-sama,” panggil Rini berusaha meredam kekakuan.

Aldi keluar dari kamar menuju meja makan dengan ponsel ditangan, Rini bisa merasakan suaminya tak sepenuhnya ingin menikmati sarapan yang sudah ia siapkan.

“ Yannkk…… besok ulang tahun Fatiah, Yannk,…… kemana kita akan membawa Fatiah ulang tahun ? hadiah apa yang akan kita belikan untuk Fatiah ?” suara Rini memelas melihat suaminya yang hanya sibuk dengan ponselnya.

BACA JUGA:  Seasons of Grace, Pameran Seni oleh Oliver Wihardja di Mezanin Katedral Jakarta

“Rin……….sudah kusampaikan Aku sibuk, jika ada waktu Aku akan pulang dan membawa Fatiah makan di luar, hadiahnya nanti kamu aja yang siapkan, uang yang aku berikan masih cukup kan,” jawab suara suaminya datar.