DIAM KU ADALAH DAMAI

Oleh Mulyati

NusantaraInsight, Maros — Malam semakin larut, dinginnya angin malam menembus kalbu, detak jam dinding terasa mengetuk jiwa, mengetuk hati yang lelah, Rini hanya bersandar pada tembok kamar, dibiarkannya jendela kamarnya terbuka, pandangannya jauh menerawang menembus langit bertabur bintang.

Seribu rasa, seribu pertanyaan yang tak mampu ia jawab, “ya Tuhan jangan tinggalkan Aku walau sekejap-pun, hidupku ku pasrahkan kepada-Mu wahai pemilik Hidup”

Rini hanya bisa menghela napas panjang kemudian menatap putrinya yang tidur lelap tanpa beban. Melihat putrinya yang tidur pulas dengan mimpi indahnya, Rini teringat masa kecilnya dulu penuh dengan keindahan penuh dengan kasih sayang, penuh kebahagiaan.

Malam semakin larut, suara kokok ayam sudah terdengar dari kejauhan, namun Rini masih tak ingin tidur, ia ingin menunggu suaminya pulang, hatinya jauh menerawang kemana ia akan melangkah, bagaimana ia menghadapai ayah- ibunya esok hari, ia membayangkan esok sederet pertanyaan Ayah-ibunya haruskah ia jawab ?, Tuhan inikah hidup yang harus aku jalani, beri aku kekuatan ya Tuhan, Rini berguman disela isak tangisnya yang pelan.

BACA JUGA:  Dukung Moncongkomba Sebagai Desa Sejarah dan Budaya, SATUPENA Sulawesi Selatan Teken MoU dengan Pannyaleori Institut dan Subaltern

Masih terngiang ditelinga Rini………suara ayahnya yang seakan meruntuhkan bumi, “Rini coba kau lihat, buka matamu, buka pikiranmu, suamimu sudah jarang pulang, apalagi yang kau pikirkan, tinggalkan suamimu, kata- kata ayahnya kala itu serasa kilat menyambar, dadanya sesak tak menyangka kata kata itu akan ia dengar dari ayahnya.

“Rini …… sejak dulu ayah tidak merestui hubungan kalian, dan sekarang inilah karma yang kau dapatkan tak mengindahkan kata-kata ayah.”

Rini tak mampu lagi membendung air matanya, semua masih jelas dalam ingatan Rini, ia berjuang membela Aldi untuk bisa wujudkan cinta mereka untuk hidup bersama membangun mahligai cinta.

Masih jelas diingatan Rini awal pertemuannya dengan Aldi suaminya, perjuangannya meyakinkan ayahnya kalau Aldi adalah laki laki yang baik, laki laki penyayang dan mereka akan hidup bahagia, ayahnya akhirnya luluh dan menerima Aldi, walau Rini yakin ayahnya tak sepenuhnya merestui hubungan mereka.

Rini, mengenang kembali awal pernikahan mereka yang berjalan sangat indah, hari hari mereka lewati dengan mesra, dengan penh kasih sayang.

BACA JUGA:  Koruptor

Mereka hidup penuh cinta kasih sampai akhirnya cinta mereka berbuah manis, dengan kelahiran putri tercintanya. Disaat bersamaan Aldi mendapat promosi di kantornya dan ditempatkan di kantor cabang.

Hari-hari dilewati dengan penuh keindahan membuat Rini tak pernah berfikir untuk berkarir, mencari pekerjaan, tumpuan harapannya hanyalah pada suaminya, apalagi dengan jabatan baru suaminya. Rini tak pernah membayangkan akan ada warna lain dalam hidupnya yang bahkan sudah menantinya.