DI MANA AYAHKU

Oleh Mulyati

NusantaraInsight, Maros — Sinar kuning keemasan di ufuk timur bergerak perlahan tapi pasti, sinarnya akan membawa semangat dan kehangatan bahwa hidup hari ini masih panjang, namun sayang tidak seperti yang dialami Fatir bocah kelas 3 SD, raut wajahnya yang tampan, bola matanya yang indah, tak lagi berbinar seperti Bintang, tak lagi tajam, Fatir hanya berdiri terpaku bersandar pada pintu pagar rumahnya dan memandang kosong pada teman-teman kelasnya yang lewat.

“ Fatir ayo Nak, kemari kita sama-sama ke sekolah, Dandi ajak Fatir Nak,” kata Pak Putra, sambil menoleh kepada anaknya, Fatir hanya menggeleng bola matanya berkaca kaca, kelopak matanya mulai berlinang, butir-butir air mata satu per satu jatuh membasahi pipinya yang lembut. Suaranya lirih Ayahku dimanakah engkau, Fatir kangen ayah.

Ya hari ini adalah hari penerimaan rapor, kemarin Ibu guru sudah menyampaikan bahwa pada hari penerimaan rapor besok, yang mendampingi setiap anak dan yang menerima rapornya adalah Ayahnya.

Mendengar penyampaian Ibu guru, Fatir seketika sedih, ingatannya kembali mengenang saat saat bahagia setiap hari pergi dan pulang sekolah dijemput oleh ayah tercinta kebanggan Fatir.

BACA JUGA:  Kritikus Sastra Dr Maman S Mahayana Bedah Buku Sastra Shantined, ini Ulasannya

Kini ayahnya telah pergi entah kemana, sejak kelas 2 ayahnya pergi katanya mencari kerja untuk belikan coklat dan mainan buat Fatir, dan sampai sekarang tak lagi kembali.

Ibunya juga pergi tanpa kabar berita, kini Fatir hanya tinggal bersama Kakek dan Neneknya yang sangat sayang kepadanya.

Fatir, suara Kakek memanggil Fatir dari dalam rumah, Fatir menoleh matanya sembab, seketika fatir berlari memeluk Kakeknya, dengan suara lirih bertanya pada kakeknya.

“Kakek mana ayahku, hari ini bu guru berpesan rapor diterima oleh ayah, isak Fatir.”

Kakeknya memeluk Fatir seakan memeluk anaknya 35 tahun lalu ayah Fatir, anak yang sangat disayanginya, namun kini anak tunggalnya pergi meninggalkan anak semata wayangnya, badai rumah tangga telah menghantam keluarga anaknya, meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi mereka.

‘Fatir anakku, suara nenek terdengar lembut dari dalam rumah, walau berusaha tegar dan tersenyum namun raut wajah Nenek Nira tak dapat menyembunyikan wajahnya yang sedih.

Hati Nenek Nira sangat terpukul, hatinya pedih dan perih tak sanggup melihat cucuknya yang harusnya bahagia dalam pelukan ayah ibunya kini tak dapat ia rasakan.

BACA JUGA:  Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh : Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM

Nenek Nira menggandeng tangan Fatir. Nenek menghapus air mata fatir cucu kesayangannya cucu semata wayang yang sangat dicintainya.

“Fatir kita berangkat Nak ke sekolah, Kakek sama Nenek yang akan menerima Rapor Fatir, Fatir anak yang pintar, kelak Fatir akan bertemu dengan ayah dan Ibumu Nak” Ayah dan Ibumu pergi mencari kerja untuk belikan fatir coklat cemilan favorit Fatir dan mainan pesawat, bukankah Fatir mau jadi Pilot, Nenek Nira terus menghibur cucunya.