Hasilnya adalah puisi yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga tajam sebagai kritik dan renungan sosial.
Pada kesempatan tersebut Halimah Munawir, Ketua Umum Obor Sastra Indonesia bercerita jejak langkah dimulai tahun 1995-2025 yakni pada tahun 1995 ibadah haji (awal terkumpulnya rasa dan pengalaman batin), periode umroh merupakan perjalanan berkelanjutan (rangkaian perjalanan yang memperkaya perspektif).
Pada November 2025 merupakan titik balik (moment saat umroh, lahirnya ide pembukuan).
Hingga berlangsungnya peluncuran (launching) buku kumpulan puisi “Keagungan Kota Suci” sebagai kado apresiasi diri.
Bedah buku “Keagungan Kota Suci” juga menyelami puisi religi antara Al-Qur’an dan Empiris Sosial sebuah apresiasi diri bagi kehidupan Halimah Munawir.
Hulu kreativitas antara langit dan bumi yaitu 1) Langit ( Kompas Teologis) dimana Al-Qur’an menjadi sumber ‘bahasa langit’ dan pedoman arah yang tak terbantahkan, 2) Bumi (Empiris Sosial) pengamatan tajam terhadap realitas dan lingkungan sekitar, 3) Insight, karya ini bersifat responsif menolak menjadi ‘air tenang’ yang menghanyutkan, puisi-puisi ini adalah nyata atas kegelisahan jiwa.
Sedangkan prinsip hidup yang menjadikan nafas puisi lima menjaga diri atas lima perkara, serta enam meyakinkan hati atas enam perkara.
Prinsip-prinsip ini tidak hanya dipegang teguh dalam hidup, tetapi ditenun ke dalam setiap baris puisi di dalam buku-bukunya.
Mekah dan Madinah lebih dari sekedar destinasi.Bagi penulis kota suci bukan hanya lokasi fisik dengan aura kebesaran yang diakui secara global.Ini adalah cermin refleksi jiwa tempat terjadinya pengagungan yang personal, mendalam, dan transfornatif.
Transformatif sosial, bagaimana interaksi di tanah suci mengubah cara pandang penulis terhadap kehidupan sosial sehari-hari.
Setiap nafas adalah berharga,dimana filosofi waktu laksana angin, ia berlalu tanpa pernah berbalik arah.Kesadaran inilah yang melahirkan urgensi untuk berkarya.
Sementara trilogi perjalanan batin terdiri atas pertama, titik nadir awal pencarian dan kedalaman rasa evolusi jiwa.
Kedua, bayang firdaus yang merupakan proyeksi kehidupan akan ketenangan, dan ketiga keagungan kota suci, puncak refleksi perjalanan spiritual.
” Buku kumpulan puisi ‘Keagungan Kota Suci” berdiri sebagai bukti bahwa waktu tidak berlalu sia-sia.Setiap nafas yang berharga telah dicatat, dirasa, dan diabadikan,” ujarnya.
Mengangkat Tema Spiritual
Sebelumnya Halimah munawir menjelaskan buku kumpulan puisi “Keagungan Kota Suci” diterbitkan oleh penerbit Dar El Sholeh karena tertarik menerbitkan buku ini lantaran konsistensinya mengangkat tema spiritualitas yang berpijak pada pengalaman personal dan kearifan lokal.












