Bincang Ekosistem Teater di Dewan Kesenian Makassar (DKM): Tak Bisa Lagi Seperti Teater Ember Bocor

Masih banyak nama lain yang merupakan pengurus DKM. Tetamu dialog teater ini merupakan para seniman yang saya tahu telah mendedikasikan sebagian usianya bagi kemajuan kesenian di daerah ini.

Teater Perlu Tertib Manajemen

Aroma romantisme terasa dalam dialog itu. Peristiwa dan komunitas seniman teater disebutkan sebagai jejak sejarah. Bahwa doeloe dengan semangat ’45, mereka bangga berteater. Hanya saja, mengelola teater ala Teater Ember Bocor, sudah bukan zamannya lagi.

Ancoe Amar bersaksi, jauh sebelum kita mengenal ruang publik, teater di Makassar sudah mempraktikkannya. Para pelaku teater di Makassar; kata dia, tidak kekurangan ide dan konsep, bahkan kaya akan konten. Masalahnya, kita butuh tertib organisasi dengan struktur yang jelas. Manajemen teater harus dibenahi agar lebih rapi dan apik.

Sekalipun dia mengaku bagian dari akar rumput, tetapi manakala hendak menadah ‘curah hujan’, maka manajemen teaternya harus dibenahi.

Pemerintah yang digambarkan sebagai curah hujan dalam dialog ini, memang menyediakan Dana Indonesiana untuk Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan kepada para seniman dan pelaku budaya, termasuk kelompok-kelompok teater. Tantangannya, ada sejumlah persyaratan yang mesti dipenuhi. Maklum, untuk memperoleh Dana Abadi Kebudayaan itu perlu transparansi dan akuntabilitas.

BACA JUGA:  Shantined : Bagaimana Proses Kreatif Menulis Sampai Jadi Buku Kumpulan Puisi dan Cerpen

Angelina Enny satu suara soal pentingnya membenahi tata kelola manajemen teater. Sekalipun diakui ada ketidakmerataan soal ‘curah hujan’ itu. Pemerintah belum berpihak sepenuhnya, tetapi terkesan hanya terpaku pada kelompok teater yang sudah punya nama.

Ancoe Amar mengenang. Katanya, dahulu, orang-orang datang menonton teater bukan saja ketika pementasan. Bahkan ketika masih berproses, saat latihan di Fort Rotterdam, euforianya sudah terasa.

Mirip anak-anak milenial dan Gen Z yang FOMO di medsos. FOMO (Fear of Missing Out) merupakan fenomena sosial untuk menggambarkan orang-orang yang tak mau ketinggalan pada trend dan keramaian. Mereka tak mau berjarak pada peristiwa. Mereka bahkan mengambil peran sebagai relawan dalam tim kerja dan publikasi.

Butuh empowerment dan kerja kolaboratif guna penguatan teater sebagai institusi maupun seni pertunjukan. DKM dengan track record, sumber daya, dan jejaring yang dipunya, saya yakin mampu segera tancap gas menghidupkan ekosistem teater yang pernah punya nama besar di Tanah Air. (*)