Bincang Ekosistem Teater di Dewan Kesenian Makassar (DKM): Tak Bisa Lagi Seperti Teater Ember Bocor

Tetamu Dialog Istimewa

Maka saya senang ketika diajak berpartisipasi dalam dialog teater ini. Temanya metaforis. “Curah Hujan vs Akar Rumput: Ekosistem Teater di Makassar”.

Sejatinya, merupakan bahasan yang menarik untuk dibawa ke ruang Focus Group Discussion (FGD), biar lebih dielaborasi, terpetakan secara baik masalahnya, dan ada langkah-langkah konkret yang perlu dilakukan. Itu yang sempat saya kemukakan di awal dialog.

Namun mandat saya, ‘hanya’ moderator, dengan Syam Ancoe Amar dan Angelina Enny, sebagai pemantik dialognya. Format dan setting ruang tak memungkinkan peserta berdialog secara optimal, apalagi durasi waktunya juga terbatas.

Ancoe Amar, saya sebut ordal (orang dalam), karena dia lahir dan besar di Makassar, meski kini banyak berkiprah di ibu kota Jakarta. Pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini aktif di dunia pertunjukan, khususnya teater dan film sebagai aktor, sutradara, dan produser. Peraih penghargaan Best Short Film Air Canada (2019) dan Best Short Film of the Fantastic Women (2022) ini, kerap menjadi juri, pembicara, maupun trainer di berbagai festival, workshop, serta pelatihan film dan teater.

BACA JUGA:  Baca Puisi UCAP IBU, Wamen Veronica Tan Sampaikan PPPA di Indonesia Kolaborasi 

Angelina Enny, yang saya sapa Enny– setelah menonton tayangan YouTube yang membahas karya-karyanya sebagai penulis–merupakan salah satu pendiri Teater Kedai, Jakarta. Penulis dari Kotabumi, Lampung, ini aktif di seni pertunjukan sebagai penulis naskah, aktor, sutradara, dan produser.

Sebagai penulis, Enny punya sejumlah catatan prestasi. Tahun 2021, ide naskahnya, “Malam Kelima Belas” (tentang Kerusuhan Mei 1998), masuk dalam Daftar Panjang Jakarta Film Fund. Di tahun 2024, “Malam Kelima Belas” yang merupakan naskah teater tiga babak, memenangkan Sayembara Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Penghargaan lain yang diterimanya, yakni salah satu cerita dalam buku “Mencari Sita di Hindia Belanda” (KPG, 2024), memenangkan Piala HB Jassin 2024. Adaptasi novela karya Enny ini, sudah jadi pertunjukan teater, berkolaborasi dengan Ancoe Amar.

Tentu kehormatan bagi saya ketika diminta oleh Goenawan Monoharto, Komite Teater DKM, memandu dialog teater di DKM oleh DKM pula. Apalagi ini kegiatan pertama yang dihelat oleh DKM, periode 2025-2030, dibawah kepemimpinan Juniar Arge.

BACA JUGA:  Nurul Irsan Asrul dan Alarm Krisis Ekologi Lewat Kriya Pirografi

Walau sempat ragu, tetapi saya meyakinkan diri bahwa jika bicara ekosistem teater, berarti para penulis, pegiat literasi, dan pewarta warga seperti saya termasuk di dalamnya.

Di hadapan saya, peserta dialog siang itu, sebagian besar merupakan wajah-wajah yang familier bagi saya. Ada Yudhistra Sukatanya, Bahar Merdhu, Mahrus Andis, Ishakim, Luna Vidya, Dr Nurlina Syahrir, Ahmadi Haruna, Baghawan Ciptoning, Dewi Ritayana, Syahril Rani Patakaki, Haeruddin Ahar, dan Goenawan Monoharto. Mereka adalah sutradara, penulis, sastrawan, kritikus sastra, akademisi, perupa, penyair, jurnalis, dan fotografer yang punya kecintaan sama pada dunia teater dan pertunjukan.