NusantaraInsight, Takalar — Penggiat literasi Kabupaten Takalar Abdul Jalil Mattewakkang menyebut sosok Prof Kembong Daeng adalah CLBK.
“CLBK yang saya maksud ini, bukan Cinta Lama Bersemi Kembali akan tetapi Caradde, Lambusu, Baji dan Kalumannyang,” ungkapnya saat menjadi narasumber bersama Prof Sukardi Weda, Rusdin Tompo dan Rosita Desriani pada Diskusi Buku Permata Karya dan Launching Program Pannyaleori Institut di Dusun Bonto Lebang, Desa Moncong Komba Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu (3/1/2026).
“C yang artinya Caradde atau pandai karena beliau memang cerdas terbukti beliau telah mencapai gelar Profesor, suatu gelar yang sangat tinggi bagi seorang akademisi,” ungkap Abdul Jalil Mattewakkang, sembari menyebutkan Prof Kembong banyak menginspirasi penulis, khususnya tentang Bahasa Makassar yang penuturnya makin berkurang.
“Prof itu caradde. Cerdas terlihat dari karya-karyanya,” katanya.
“Kemudian L atau Lambusu (jujur), beliau memang dikenal jujur, utamanya oleh saya pribadi. Beliau ini dalam bertindak selalu apa adanya dan tidak berlebihan,” sebut penggiat literasi yang juga lulusan profesi guru di UNM ini.
“Selanjutnya adalah B atau Baji (baik), ini terungkap oleh beberapa orang yang telah berinteraksi dengan beliau. Bagaimana beliau mensuport penuh para pencari ilmu di UNM,” tambahnya.
“Dan terakhir K atau Kalumannyang (kaya). Kalumannyang ini bukan berarti memiliki harta yang berlimpah, akan tetapi beliau kaya hati karena selain membantu dan menyisihkan rezekinya bagi para pekerjanya juga beliau mau kembali ke kampung untuk membangun kampungnya. Salah satunya adalah dengan adanya Pannyaleori Institut ini,” lanjutnya.
Ia juga berharap agar Pannyaleori Institut di Desa Moncong Komba ini dapat menjadi Desa Wisata Sastra, Sejarah dan Budaya di Kabupaten Takalar.
Bahkan ia secara tegas menyinggung Pemerintah untuk melestarikan bahasa daerah Makassar yang menurut informasi yang didapatkan salah satu bahasa yang terancam punah ini.
“Salah satunya adalah memasukkan pelajaran Bahasa Daerah sebagai mata pelajaran wajib di sekolah bukan sebagai mata pelajaran pilihan,” pungkasnya.
Diketahui, Diskusi Buku Permata Karya dan Launching Program Pannyaleori Institut ini dihadiri oleh sejumlah sastrawan, akademisi, jurnalis dan penggiat literasi dari Kota Makassar.
Mereka di antaranya, Yudhistira Sukatanya, Dewi Ritana, Dr. Fadli Andi Natsif (akademisi), Rahman Rumaday (penulis), M. Amir Jaya (sastrawan), Dr. Azis Nojeng (akademisi), Topan, Nasrullah (Jurnalis) dan juga Rusdi Embas (jurnalis).












