Upacara pemakaman di Taman Makam Pahlawan Panaikang berlangsung khidmat. Di bawah langit yang mendung, iringan doa mengantar seorang pahlawan yang tak pernah ingin disebut pahlawan.
Setelah pemakaman, keluarga kembali bertanya kepada Bapak Arifin Nu’mang.
“Kenapa almarhum tidak pernah menceritakan bahwa beliau seorang pejuang yang pernah bergerilya di Laskar Ganggawa?”
Bapak Arifin menarik nafas panjang sebelum menjawab pelan,
“Inilah pahlawan sejati. Ia tidak pernah membanggakan diri, bahkan kepada anak-anaknya sendiri. Dan sekarang, setelah beliau tiada, kami—kawan seperjuangannya—berkewajiban untuk menceritakan kisah perjuangannya.”
Lalu, kisah itu pun terbuka satu demi satu.
Dulu, semasa penjajahan, Haji Katutu bekerja di Rumah Sakit Stella Maris Makassar sebagai Kepala Laboratorium dan Obat-obatan.
Dalam posisi itulah, diam-diam ia membantu para pejuang. Ia menyelundupkan obat-obatan penting untuk mereka yang bertempur di garis hutan. Setiap sore, sepulang kerja, ia membawa ransel berisi perban, obat terutama obat luka yang disembunyikan rapi di dalam ranselnya. Malam harinya, ia berjalan menembus gelap menuju tepi hutan untuk menyerahkan obat itu kepada para gerilyawan.
Namun pengkhianatan datang dari orang dalam.
Seorang pegawai rumah sakit yang seorang Belanda mengintai gerak-geriknya. Suatu malam, ia tertangkap. Dipukul, diinterogasi, lalu dibawa ke markas Belanda di Makassar sebelum dikirim ke penjara di Parepare.
Di penjara itulah, takdir mempertemukannya dengan seorang kenalan sipir yang diam-diam masih punya nurani.
“Besok sel ini akan dibersihkan oleh Westerling,” bisik sang sipir. “Semua tahanan akan dieksekusi. Kalau kau ingin hidup, malam ini kau harus pergi.”
Dengan bantuan sipir itu, tengah malam Haji Katutu melarikan diri. Ia memanjat pagar tinggi penjara. Peluru Belanda sempat menghantam kakinya, namun ia tetap memaksakan diri berlari dalam luka. Dalam gelap malam, ia menyeberang pagar dan lenyap di antara semak, menuju hutan.
Sejak hari itu, hidupnya hanya untuk perjuangan. Ia bergabung dengan Laskar Ganggawa, pasukan rakyat yang bermarkas di Rappang, Sidrap. Bersama para pejuang lainnya, ia bergerilya dari hutan ke hutan, dari Sidrap ke Bone, dari Soppeng hingga Sinjai. Bertahun-tahun hidup dalam hutan , berjuang bukan demi nama, melainkan demi kemerdekaan yang kelak dinikmati anak cucunya.
Saat Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, para pejuang itu keluar dari hutan. Sebagian diangkat menjadi tentara. Banyak yang kemudian berpangkat tinggi, seperti Jenderal Andi Sose dan Arifin Nu’mang. Tapi Haji Katutu menolak jalan itu. Ia memilih kembali ke profesinya sebagai ahli medis, karena baginya, mengobati rakyat adalah bentuk perjuangan yang lain.












