Istilah “Akkasaraki” atau “Makkasari”, dalam peristiwa pertemuan Karaeng Matoaya, Raja Tallo VI, dengan lelaki bersorban hijau dan berjubah putih, disebut berkaitan dengan asal mula nama Makassar. Lokasi pertemuan mereka itu, dikenal dengan Timongang Lompo ri Tallo.
Sudirman nanti menjadi salah seorang pemandu dalam kegiatan Tur Sejarah Tallo, Jappa-Jappa ri Tallo. Selain dia, ada pula Adil Akbar, guru sejarah di SMAN 2 Makassar penulis buku tentang Kerajaan Gowa, Rahmatul Yushar, guru sejarah dengan fokus kajian sejarah islam, alumni UIN Alauddin, Makassar, Bu Saenab, warga Tallo yang tinggal dekat Pantai Marbo.
Adil Akbar menyampaikan, berbagai sumber memperlihatkan peran Kerajaan Tallo dalam sejarah maritim di Nusantara. Salah satu bukti peninggalannya, yakni Pelabuhan Soekarno-Hatta, yang di masanya masuk wilayah Kerajaan Tallo.
Bu Saenab mengemukakan pesan bijak dalam bahasa Makassar yang menyatakan “tallasa tena lekba mate”. Artinya, jiwa itu akan tetap hidup, yang mati hanya badan atau tubuh. Seseorang akan selalu abadi dalam kenangan. Ini sebagai ungkapan agar kita selalu mengingat dan menghormati leluhur.
Setelah pembahasan sekilas tentang situs-situs bersejarah di Tallo oleh Rahmatul Yushar, workshop secara partisipatif kemudian menentukan lokasi awal tur dimulai. Ada 9 lokasi situs bersejarah yang akan dikunjungi peserta Jappa-Jappa ri Tallo.
Acara pelepasan peserta tur dimulai dari Pantai Marbo dan diakhiri di Kompleks Makam Raja-Raja Tallo. Setelah itu peserta akan ke dermaga yang tak jauh dari situ, lalu dengan menumpangi kapal menyusuri muara Sungai Tallo untuk kembali ke Pantai Marbo
Ferdhi, yang aktif di Ruang Abstrak Literasi itu, melihat antusias orang pada kegiatan yang merupakan bagian dari Pertunjukan Seni Budaya Muara Sungai dan Tallo Bersejarah. Indikatornya pada jumlah peserta yang mendaftar sebanyak 147 orang dari berbagai latar belakang. Sementara yang akan ikut tur Jappa-Jappa ri Tallo hanya 15 orang. Tur akan dilaksanakan pada Minggu, 21 Juli 2024.
Rusdin Tompo menyampaikan, keseluruhan kegiatan di kawasan Tallo lama ini reaktualisasi sejarah dan budaya yang ada di Tallo. Dia berharap, gaungnya akan membesar melalui publikasi di berbagai platform digital. Ini juga momen untuk mendokumentasikan praktik-praktik tradisi yang hidup di masyarakat Tallo.
Workshop ini diiikuti sejumlah lembaga dan komunitas. Mereka yang rerata merupakan milenial dan Gen Z, berasal dari Ruang Abstrak Literasi, Ikatan Pemuda-Pemudi Mangarabombang (IPPM), Indonesia’s Sketcher (IS) Makassar, Tanah Indie, dan Forum Anak Makassar (FAM).












