*Melawan dengan Bahasa*
Kegiatan Gaukang ri Lakkang 2026 bertema “Dari Kampung untuk Kampung: Menulis Sejarah Delta Lakkang dari Dalam”, sesungguhnya bukan soal keterampilan teknis menulis semata.
Sofyan Basri selaku penanggung jawab program mengungkapkan, ketika pengalaman hidup warga dan ingatan kolektif mereka terpinggirkan, maka akibatnya bisa lebih fatal. Yakni, kampung tidak hanya kehilangan narasinya, tetapi secara perlahan juga kehilangan cara untuk memahami dirinya sendiri.
Workshop Penulisan Sejarah Kampung Lakkang ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Program Dana Indonesianya.
Dana Abadi Kebudayaan bertujuan mendukung pemajuan kebudayaan nasional yang berkelanjutan melalui pendanaan bagi individu, komunitas, dan lembaga budaya.
Subarman Salim, peneliti sejarah dan pegiat budaya, menawarkan sejumlah topik sebagai bahan diskusi, yang bisa pula menjadi materi tulisan.
Mulai dari bahasa, makanan sebagai sumber penghidupan, sistem kekerabatan, pengetahuan kelompok atau komunitas, seni, artefak, situs, ritual dan transformasi sosial, relasi-korelasi antara manusia dan ekosistem, juga ruang geografi, historis, dan sosiologis.
Subarman Salim, yang pernah tiga kali memperoleh hibah penulisan historiografi dari Kemendikbudristek RI, mengajak peserta agar lebih berani mengekspresikan pemikiran-pemikirannya dengan menggunakan bahasa ibu.
Sebab, menurutnya, bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi. Baginya, bahasa merupakan alat identifikasi, penanda “status”, “orientasi”, dan “kepentingan”.
“Bahasa ibu, mencakup bahasa lisan yang pertama dikenal dan dikuasai, adalah sistem pertahanan-perlawanan, terhadap bahasa yang dominan,” terangnya.
Dikemukakan, bahasa atau sistem bahasa, termasuk struktur logika bahasa, merupakan bagian dari identitas sebuah komunitas.
Karena itu, dalam pandanganya, penaklukan (kolonialisme) selalu disertai dengan “penaklukan” bahasa pula.
*Lakkang Sebagai Laboratorium Sejarah*
Sebagai pemateri ketiga, saya pun mengingatkan peserta sebagai warga Lakkang untuk mengambil peran dan tanggung jawab. Salah satunya bisa melalui aktivitas menulis, untuk kegiatan edukasi, literasi, juga advokasi.
Ini bagian dari literasi budaya dan kewargaan. Setiap orang, sebagai warga negara, berhak berpartisipasi dan bersuara melalui medium tulisan.
Saya menekankan pentingnya observasi. Ketika menulis kampung sendiri dalam bentuk reportase ataupun esai, observasi tetap menjadi hal yang penting.
Saya meminta peserta menggunakan semua indra, mendengarkan cerita dan kisah-kisah (unik, ikonik, spesifik, dan monumental), juga menandai tempat-tempat yang dianggap bersejarah, atau keramat.













