“Luar biasa,” kata pekebun itu kagum.
Sambil menikmati perjalanan kereta, Profesor itu pun mengajak ‘sahabat’-nya itu main tebak-tebakan tentang ilmu pengetahuan.
“Jangan mi, Pak!. Saya hanya tukang kebun, Bapak, Profesor. Tidak mungkin saya melawan tebak-tebakan Bapak,” jawab tukang kebun itu merendah.
“Tidak apa-apa. Kita coba,” kata Profesor, lalu mengatakan,” kalau Bapak tidak menjawab pertanyaan saya, Bapak kasih saya Rp 100 ribu. Lalu bapak bertanya kepada saya dan saya tidak bisa menjawab, saya kasih 1 juta”.
“Boleh juga, Pak!,” jawab tukang kebun itu terlihat pasrah.
“Pertanyaan saya kepada Bapak, berapa kilometer jarak dari bumi ke bulan?,” tanya sang Profesor.
“Tidak tahu ka, Pak,” jawab pekebun serta merta dan tanpa pikir sama sekali.
Lalu Profesor itu minta Rp 100 ribu. Dikasihlah 100 ribu,
“Berapa memang jaraknya, Pak,” pekebun itu kembali bertanya.
“384.400 km!,” jawab si Profesor membuat pekebun itu terdiam. Luar biasa. Lalu Profesor itu mengatakan, “Bapak lagi yang bertanya kepada saya”.
“Binatang apakah itu kalau dia mendaki kakinya tiga dan kalau turun dari pendakian, kakinya menjadi empat,” tanya tukang kebun itu setelah lama juga berpikir.
Setelah lama tidak mendengar jawaban sang Profesor karena tidak menemukan jawaban, tukang kebun itu langsung meminta 1 juta.
“Saya penasaran, binatang apakah yang dimaksud?,” Profesor balik bertanya setelah membayar kepada tukang kebun 1 juta.
“Maaf, saya juga tidak tahu!,” jawab tukang kebun setelah pura-pura lama berpikir dan pekebun itu menyerahkan 100 ribu.
Jadi Profesor kalah 800 ribu. Inilah contoh, guru besar yang bukan guru kebijaksanaan.
Dia sangat mengandalkan dirinya, kehebatannya. Dia tidak hanya kehilangan 800 ribu, tetapi juga kehilangan jati dirinya terhadap seorang tukang kebun. Prof.Darmawati, Prof. Tasmin, dan Prof. Abdullah, janganlah seperti itu!
Hamdan Juhanis agaknya sudah mempersiapkan alat peraga yang dia gunakan untuk memberikan analogi filosofis yang diamanahkannya kepada para guru besar.
Sebatang pensil pernah menjadi alat tulis utama para anak didik pada masa yang lalu. Pensil, ujungnya dipakai menulis. Menulis kehidupan. Kalau ada yang salah, kita balik, kita hapus yang salah. Inilah hidup. Hidup sejatinya seperti pensil.
Tiba-tiba kita salah dan gagal. Kita patahkan pensil itu menjadi dua. Tetapi ternyata sebagai guru kebijaksanaan, di tengah kepatahan dan kejatuhan itu, begitu banyak peluang yang bisa tercipta. Apa yang dilakukan? Suasana hening, tak seorang pun dari ketiga guru besar baru memberi solusi.












