“Kami sengaja membawa ASARAKA ke ruang publik di Takalar agar masyarakat melihat langsung bahwa kampus tidak jauh dari kehidupan. Bahwa sastra Makassar terus akan hidup dan relevan,” katanya yang disambut gemuruh tepuk tangan.
Prof Kembong Daeng yakin bahwa setiap keringat, setiap latihan, setiap dialog yang hafal dan dipahmi para pemain, adalah bagian dari proses pembentukan karakter.
Atas suksesnya pertunjukan drama ASARAKA di Desa Moncongkomba ini, ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama Pemerintah Kabupaten Takalar, pimpinan FBS UNM, dan para dosen pembimbing.
Terima kasih juga disampaikan kepada mitra, antara lain Pannyaleori Institute, Penerbit Yudhistira, Karang Taruna, Bestra, orang tua mahasiswa, serta masyarakat Desa Moncongkomba.
“Tanpa kolaborasi kita semua, projek pementasan drama ASARAKA, tidak akan sampai ke panggung di Desa Moncongkomba ini,” pungkas Prof Kembong Daeng. Semoga menjadi inspirasi untuk terus menjaga dan menghidupkan budaya kita. (*)












