Pengukuhan Empat Guru Besar UINAM, Mandi Air Mata, Canda, dan Tawa

Islamic Character Transmission (ITC), sebagai gagasan baru Prof. Kamaluddin. Baginya ICT tidak sekadar Information and Communication Technology tetapi hendaknya menjadi Islamic Character Transmission. Teknologi yang mentransmisikan akhlak islami di ruang digital. Hal ini dimaksudkan agar generasi muda milenial dan gen-z, tidak hanyut dalam konsumerisme, dehumanization, dan hoaks.

Prof. Kamaluddin memulai dengan membangun kurikulum berbasis etika digital islami dengan menanamkan nilai tabayyun, amanah, iffah, dan rahmah.

Kurikulum ini, kata pria kelahiran Maros 10 Maret 1974, membuat aplikasi game yang menantang generasi muda mengambil keputusan moral. Selanjutnya, kehadiran role model digital yakni ulama, akademisi, dan influencer Muslim yang secara nyata menjadi teladan di platform digital.

Selanjutnya kata Prof. Munawir, memanfaatkan kekuatan AI Islami, mengembangkan algoritma dakwah, pemantau ujaran kebencian dan penyaring konten destruktif.

Akhirnya sampailah pada ucapan terimakasih tak terhingga kepada seluruh yang telah berjasa dalam hidupnya, terkhusus kepada orangtua tercinta.

Dia pun amat terharu dan tak sanggup melanjutkan apa yang akan disampaikan. Dia mengambil lembar demi lembar tisu yang disiapkan panitia di atas podium.

BACA JUGA:  Anjangsana Darma Wanita Persatuan Cabdis Wilayah X ke Panti Asuhan Ridha Muhammadiyah Enrekang

Dia pun mempersembahkan guru besar kepada ayahnya Drs. KH. Kamaluddin Sukku dan kepada ibunya Hj. Andi Aisyah Marzuki Hasan yang telah wafat. Tentu pula kepada istri dan keenam anaknya.

Kepada Abba dan Umminya, dia memohon maaf karena masa kecil hingga remaja, tingkah lakunya sering bikin susah. “Namun dengan kecintaan dan belas kasih membesarkan saya, kini Munawir yang sering meresahkan itu, telah berdiri dengan percaya diri di podium kehormatan pengukuhan guru besar, ” kata Kamaluddin dengan suara bergetar.

Waktu terus berjalan hingga sampailah giliran Prof. Dr. Drs. H. Supardin, M. HI.
Pria kelahiran Batu Merah Malili Kabupaten Luwu 2 Maret 1965.

Dia bungsu dari enam bersaudara dari pasangan Sitti Fatimah dan Diusman Djahir.

Kepala Pusat Kajian Islam Sains dan Teknologi ini, mengaku tak mau kalah dengan penampilan guru besar sebelumnya.

Semangat hijau hitam yang mengalir di tubuh mantan Kepala Pusat Peradaban Islam, teramat kental. Sehingga mengawali pidatonya, Sektetaris Jenderal BPP IKA UINAM ini, meminta kepada peserta mengikuti arahannya. “Kalau saya bilang yakusa, maka lanjutkan dengan yakin usaha sampai, ” ajaknya penuh semangat yang menyala.

BACA JUGA:  Faisal Syarif, S.Pd.,M.Kes Kepala SLBN 1 Parepare Raih Terbaik 1 GTK Dedikatif

Pada pidato pengukuhan bertajuk Warisan di Persimpangan Konflik Antara Tradisi dan Keadilan, kajur Hukum Acara Peradilan dan Kekeluargaan/Hukum Keluarga Islam 2015-2019 ini, mengurai tentang banyaknya kasus-kasus warisan yang tak kunjung selesai, bahkan karena persoalan harta warisan menyebabkan terjadinya perselisihan keluarga dan tidak jarang pula berakhir tragis.

Prof. Supardin yang juga pernah menakodai Laboratorium Falaq Fakultas Syariah 2012-2015, mengingatkan bahwa kehadiran di ruangan ini, bukan sekadar menyaksikan seremoni pengukuhan, tetapi meneguhkan komitmen terhadap ilmu pengetahuan agar terwujud keadilan warisan di bumi pertiwi.

Isu warisan sering menjadi pemicu sengketa keluarga berkepanjangan. Hal ini sebagai cerminan kompleksitas hukum dan budaya yang sailing bersinggungan. Selain itu, dilema dalam menerapkan nilai-nilai keadilan berdasarkan hukum, sering berbenturan dengan tradisi masyarakat yang mengakar.

Konflik antara tradisi dan keadilan dalam pembagian warisan, menurut ayah tiga anak ini, memerlukan pendekatan yang tidak sekadar normatif, tetapi juga dialogis dan kontekstual dengan mempertimbangkan aspek sosial, kultural, spiritual yang hidup dalam masyarakat.