Pannyaleori Institut Dorong Ranperda Pappilajarang Aksara Mangkasarak di Kabupaten Takalar

NusantaraInsight, Makassar — Pembelajaran aksara Mangkasarak, bahasa dan sastra daerah Makassar penting melalui institusi pendidikan karena berperan sebagai fondasi utama dalam menjaga identitas budaya, memperkuat karakter bangsa, serta mencegah kepunahan warisan leluhur di tengah arus globalisasi.

Dengan demikian dibutuhkan regulasi daerah demi kepastian hukum sekaligus bentuk political will Pemerintah Daerah (pemda) dalam bentuk kebijakan kurikulum, program, kegiatan, dan anggaran.

Apalagi pemda kerap melontarkan keprihatinan terkait rendahnya kemampuan literasi aksara Mangkasarak, dan kian memudarnya penggunaan bahasa daerah Makassar, termasuk di Kabupaten Takalar, baik sebagai komunikasi dalam aktivitas sehari-hari, apalagi dalam pembelajaran.

Bahkan ada kekhawatiran, aksara-aksara lokal dan bahasa daerah bakal punah akibat semakin berkurang pengguna dan penuturnya.

Itulah yang jadi alasan Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut mengadakan kegiatan Empo Sipitangarri: “Mendorong Ranperda Kabupaten Takalar tentang Pappilajarang Aksara Lintarak, Basa, dan Sastra Mangkasarak”, pada Senin, 16 Februari 2026.

“Kami dari Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut, memandang penting menggelar kegiatan diskusi ini guna mendorong adanya Ranpera Kabupaten Takalar tentang Pappilajarang aksara lontarak, bahasa, dan sastra Makassar. Kegiatan ini merupakan cara kami memperingati Hari Jadi Kabupaten Takalar ke-66, yang jatuh pada tanggal 10 Februari 2026,” terang Muhammad Fahmi Yahya, SS, Ketua Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut.

BACA JUGA:  Fakta Menarik Pembukaan Porsenijar PGRI Makassar

Kegiatan empo sipitangarri ini menghadirkan narasumber Prof Dr Hj Kembong Daeng, S.Pd, M.Hum (Akademisi Universitas Negeri Makassar), Prof Dr H Aminuddin Salle, SH, MH (Budayawan), H Syamsu Salewangang, ST, M.Si (Pengamat Kebijakan Publik dan Penggiat Kebudayaan), dan Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulsel, Legal Drafter & Penggiat Literasi).

Moderator diskusi ini adalah Alim Bahri, S.Pd, M.Pd, yang merupakan seorang akademisi.

Kegiatan yang diikuti berbagai kalangan, mulai budayawan, tokoh masyarakat, dosen, guru-guru, mahasiswa, dan penggiat literasi ini diselenggarakan di Perpustakaan Pannyaleori Institut, Dusun Bontolebang, Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Prof Aminuddin Salle dalam pemaparannya mengingatkan, jangan sampai aksara lontarak Makassar punah di tanah kelahirannya.

Padahal suatu bangsa bisa menjadi besar lantaran punya aksara, bahasa, dan sastra yang jadi identitas budayanya.