Novel ini juga punya banyak kandungan nilai yang bisa jadi pembelajaran, seperti nasionalisme, berani karena benar, teguh memegang prinsip, serta kepedulian dan panggilan untuk melawan ketidakadilan. Menurut Rusdin Tompo, pendekatan gaya penulisan secara kronologis membuat novel ini relatif ringan dipahami dari segi alur cerita.
“Sub-sub bagian dari novel ini tidak terlalu panjang, sehingga bisa membacanya tak harus sekali jalan,” lanjut Rusdin Tompo.
Dalam acara diskusi buku yang dipandu Ramly Usman ini, acara dibuka oleh lantunan sinrilik Arif Daeng Rate. Cara ini terasa segar, saat pasinrik dengan penampilan khas busana hitam-hitam itu berkisah tentang konflik dan pertempuran yang dicuplik dari kisah dalam novel.
Menurut Nurwana, Program Manager Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan, sebagai penyelenggara acara bedah buku, selain berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, lembaganya juga peduli terhadap aktivitas literasi. Acara diskusi buku merupakan salah satu bentuk upaya Dompet Dhuafa memajukan gerakan literasi, berkolaborasi dengan berbagai komunitas, termasuk dengan SATUPENA. (*)












