Begitupun dengan karya string art hasil buatan tangan Raodatul Janna. Bagi perempuan yang hobi nonton dan suka mendengarkan musik ini, imajinasinya dalam menarik benang smock dari satu paku ke paku-paku lainnya, tak hanya untuk membentuk pola gambar hewan, seperti gajah, kuda, harimau, burung, dan kupu-kupu. Lebih daripada itu, karya bergaya pop-art dengan warna-warni kontras dan unik ini, juga menyiratkan “Proses”, “Percaya Diri”, “Kekuatan”, “Ketangguhan”, “Kerja Sama”, “Ketenangan”, “Solidaritas”, dan “Keseimbangan”. Sebagaimana judul-judul yang diterakan dalam karya-karyanya.
Khusus untuk Ainun Zariya, lewat kriya rajut yang mengusung nilai-nilai multikultur, seolah mau mencolek kita bahwa ada banyak kekayaan budaya lokal yang gaya, gaul, dan tak kalah gengsinya. Lingkungan sosial dan kultural Ainun Zariya, sangat mempengaruhi kriya rajutnya. Dia banyak terinspirasi dari rajutan tradisional masyarakat Papua. Rasa dan nuansa noken yang ikonik, bisa kita lihat pada rajutannya berjudul “Satu Semburan”, “Cheerful”, “Makassar”, “Kue Lapis Pelangi”, “Senja Kaimana”, “Culture”, “Pesisir”, “Noken Kelelawar Wamena”, dan “Bird of Paradise 1” serta “Bird of Paradise 2”.
Rupa ekspresi yang ditampilkan Ainun Zariya, Nurul Irsan Asrul, dan Raodatul Janna, tak rumit untuk dibaca dan dipahami. Tak butuh interpretasi tertentu untuk bisa menikmati karya kriya mereka yang secara visual menarik, unik, dan tentu saja indah. Pilihan menampilkan karya seni rupa modern berupa pirografi, string art, dan kriya rajut, dalam pameran yang merupakan studi khusus ini, bagai kita mengunjungi stan-stan kerajinan, yang related dengan generasi kekinian. Karya-karya ketiganya sangat layak dijadikan koleksi maupun cendera mata. Itu merupakan senyata apresiasi. []












