Mahasiswa Tim MKPK Batch V UNHAS dan PT. Vale Tingkatkan Kapasitas Peternak Parumpanai Lewat Pelatihan Pembuatan Silase

NusantaraInsight, Luwu Timur — Upaya peningkatan kapasitas peternak terus didorong melalui kegiatan pelatihan pembuatan silase yang dilaksanakan di Desa Parumpanai, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur pada 10 Januari 2026.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara PT Vale Indonesia Tbk dan Tim MKPK Batch V Universitas Hasanuddin (UNHAS) sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan sektor peternakan masyarakat.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam mengolah hijauan pakan menjadi silase, yaitu pakan ternak fermentasi yang tahan lama, bernilai gizi tinggi, dan dapat menjadi solusi ketersediaan pakan pada musim kemarau.

Melalui kegiatan ini, peternak diperkenalkan pada teknik pemilihan bahan, proses pencacahan, pencampuran, fermentasi, hingga penyimpanan silase yang baik dan benar.

Perwakilan PT Vale menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pengembangan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

“Kami berharap pelatihan ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi peternak, khususnya dalam menjaga keberlanjutan usaha ternak melalui ketersediaan pakan yang stabil,” ujarnya.

BACA JUGA:  Ini Kata Sekdisdik Sulsel di SMKN 11 Bulukumba

Sementara itu, Tim MKPK Batch V UNHAS menjelaskan bahwa pendampingan ini tidak hanya sebatas pelatihan teknis, tetapi juga mendorong pemahaman peternak mengenai manajemen pakan yang efisien.

“Silase menjadi salah satu teknologi sederhana namun berdampak besar dalam meningkatkan produktivitas ternak. Kami ingin memastikan masyarakat mampu mempraktikkan teknik ini secara mandiri,” ungkap salah satu anggota tim.

Antusiasme masyarakat Desa Parumpanai terlihat dari partisipasi aktif para peternak selama kegiatan berlangsung. Selain praktik langsung pembuatan silase, peserta juga mendapatkan sesi diskusi terkait kendala pakan yang selama ini dihadapi serta solusi aplikatif yang dapat diterapkan di tingkat peternak.

Kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi yang potensial bagi peternak. Dengan kemampuan memproduksi silase secara mandiri, peternak dapat menekan biaya pembelian pakan komersial sekaligus menjaga kestabilan nutrisi ternak sepanjang tahun. Kondisi ini diharapkan berkontribusi pada peningkatan bobot ternak, kesehatan hewan yang lebih baik, serta nilai jual yang lebih tinggi di pasaran.

Selain itu, program pendampingan ini dirancang sebagai langkah berkelanjutan, bukan kegiatan sesaat. Kolaborasi antara sektor industri dan perguruan tinggi diharapkan mampu menciptakan model pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan, di mana transfer pengetahuan dan teknologi tepat guna terus berlangsung. Ke depan, Desa Parumpanai diharapkan dapat menjadi percontohan dalam pengelolaan pakan ternak berbasis sumber daya lokal.