Ia juga berpesan agar pada kegiatan ini, dapat memetakan apa saja sasaran yang akan dituju dan juga segmen mana yang akan diriset.
Menyambung hal itu, Prof Baharuddin yang merupakan seorang peneliti di bidang pertanian menyinggung tentang sistem urban farming yang sangat cocok digunakan di daerah seperti Kota Makassar ini.
“Tentu untuk menerapkan urban farming kita sangat cocok memproduksi kecambah (tauge) atau juga metode green farming,” ujar Guru Besar Unhas ini.
Ia juga mengungkapkan bahwa untuk tanaman itu sangat memerlukan natrium. Dan menariknya, kata Prof Baharuddin, udara yang kita itu 78 persennya mengandung natrium.
“Dan ini kita bisa manfaatkan untuk urban farming ini,” imbuhnya.
Ia juga menyinggung beberapa masalah krusial di kota Makassar yang sebenarnya dapat dimanfaatkan.
“Seperti biomassa (sampah), eceng gondok itu bisa dimanfaatkan, jikalau ada nilai komersilnya harus di patenkan,” tandasnya.
Di sisi lain, perwakilan K-apel yang dihadiri oleh Founder Rahman Rumaday, S.I.Pem, didampingi Dewan Pembina Dr Zulkarnain Hamson, S.Sos.,M.Si dan Arwan D. Awing, SE sebagai elemen masyarakat dalam kolaborasi itu, mengambil peran sebagai pemetaan basic masalah di kota Makassar.
Seperti yang diungkapkan oleh Dewan Pembina Dr Zulkarnain Hamson saat memberikan masukan dalam pertemuan tersebu.
“Saya diajak bergabung dalam komunitas ini, untuk bagaimana kita dapat membangun jiwanya masyarakat kita melalui program-program yang ada di komunitas,” tuturnya.
Lebih jauh lagi, ia mengungkapkan bagaimana jiwa ke-Islaman kita dapat diterapkan di kota Makassar. Bahkan ia membandingkan anak-anak di kota Makassar dengan di Jepang.
“Tentunya ini semua butuh riset yang akan memetakan masalah yang kemudian dari hasil riset itu akan muncul inovasi yang akan menyelesaikan masalah kota Makassar,” tutupnya.
Ini juga ditambahkan oleh Founder K-apel Rahman Rumaday agar Dafi School sebagai sekolah yang telah menerapkan kurikulum berbasis riset agar segera membuat laboratorium riset di sekolah.
“Mengapa ini penting, agar Dafi School dapat menjadi rujukan bagi warga yang ingin mengetahui hasil-hasil riset tentang berbagai permasalahan di kota Makassar,” ungkap penulis buku Trilogi Maharku Pedang dan Kain Kafan ini.
“Jika orang bertanya tentang permasalahan sampah dan bagaimana solusinya, mereka cukup datang di laboratorium riset di Dafi School dan semuanya dapat terjawab,” terangnya.
Pria berkacamata tebal ini juga sangat setuju agar hasil festival dan Expo riset ini dapat membentuk ekosistem riset yang selanjutnya akan secara rutin mengadakan pertemuan.












